Budi Pekerti, Potret Kehidupan Guru dalam Bingkai Sempit yang Terkadang Tak Realistis

Setelah hampir dua puluh tahun menjadi guru, walaupun itu hanya guru les, dan setelah hampir seratus murid yang saya ajar, baik ketika menjadi guru di tempat kursus maupun sekarang ketika saya sudah mengajar secara privat, saya menyadari kalau menjadi guru itu tidak hanya ‘give’ dan ‘give’. Ada kalanya sebagai manusia kita perlu ‘take’. Ada kalanya, saya harus fokus kepada anak didik saya dan bertanggung jawab sepenuhnya, bahkan di luar hari kerja dan jam kerja yang seharusnya, namun ada kalanya saya juga harus berpihak pada keluarga saya, pada istri dan anak saya, yang punya kebutuhan khusus.

Hidup sebagai guru memang sangat berat. Saya menyadari sepenuhnya ada perbedaan karakteristik pendidikan baik dari subjeknya, dalam hal ini siswa, maupun fasilitatornya, dalam hal ini guru, di kota Jakarta dan Jogjakarta. Saya juga tidak bisa menafikan bahwa ada perbedaan lingkungan yang murid-murid hidupi di dua kota tersebut. Menyamaratakan tentu bukanlah perkara yang adil. Namun kita tidak bisa memungkiri bahwa ada satu hal penting yang mengaitkan antara guru dan murid baik di Jakarta maupun di Jogjakarta. Kita ini semua manusia yang bisa merasa dan berpikir. Kita adalah manusia yang punya kehendak dan pikiran yang bebas, namun di sisi lain, kita juga manusia yang terkungkung oleh struktur sosial dan konstruksi masyarakat yang terkadang tidak memberikan ruang begitu besar untuk kita dalam bertindak.

Ruang itu semakin sempit dengan kehadiran teknologi di mana batasan antara hal yang privasi dan publik menjadi kian samar. Adanya teknologi sejatinya mampu membuka akses seluas-luasnya untuk berkomunikasi tanpa menghiraukan sekat dan jarak yang dulu begitu memisahkan. Namun di sisi lain, dengan kemudahan yang dimiliki, serta kuantitas yang melebihi, kualitas menjadi tergerus. Di jaman sebelum adanya internet dan media sosial, komunikasi hanya mengandalkan telepon atau lebih jadulnya lagi, surat. Keterbatasan media komunikasi membuat kita benar-benar memikirkan dengan matang apa yang seharunya ditulis dan diucapkan. Pertemuan tatap muka menjadi sesuatu yang lebih punya makna karena jarak akan jadi pemisah baik jarak waktu maupun jarak dalam arti harafiah.

Film Budi Pekerti hadir dengan visi yang sama seperti yang disebutkan di atas. Kita diajak untuk mencari sesuatu yang esensial di tengah-tengah segala kebisingan dan kesimpangsiuran yang membanjiri media sosial kita. Kita diajak untuk memahami dan menelaah bukan menelan bulat-bulat semua informasi. Sangat jarang film Indonesia yang bisa memanfaatkan momentum pandemi Covid dengan baik seperti ini. Jarak, di film ini, menjadi sebuah komoditi yang dikapitalisasi sebesar-besarnya untuk mengurai tema menjadi alur cerita yang boleh dikatakan cukup solid. Ada keberjarakan yang tercipta di antara manusia di film ini yang hanya memikirkan diri mereka sendiri dan lupa terhadap yang lain. Ada tekanan ekspektasi sosial, yang tidak nampak dan tidak secara eksplisit ditonjolkan di dalam cerita yang mempengaruhi lakon dan aksi manusia di dalam film ini.

Melihat Ibu Prani marah dengan lelaki yang menggunakan kaos bergambar elang sebagai luapan emosi atas ketidakadilan yang selama ini dia rasakan sudah cukup menjadikannya sebagai manusia yang seutuhnya. Dalam film ini, memang kita diajak untuk menyelami manusia secara lebih mendalam, bukan sekadar notifikasi ataupun keviralan yang melayang di media sosial kita. Namun di paruh akhir cerita, filmmakernya seolah mengigit lidahnya sendiri ketika dia mulai mengeluarkan tali puppeteer-nya untuk mengerakkan lakon dua manusia yang saya akan jadikan contoh di film ini, Bu Prani dan Mbak Uli. Manusia-manusia yang seharusnya bisa bebas, kini masuk ke dalam konstruksi cerita yang sejatinya sedikit dipaksakan hanya guna memenuhi tema cerita tentang jarak itu sendiri.

Filmmaker seakan lupa kalau Bu Prani sempat kelihatan buruk rupa karena marah-marah di pasar. Filmmakernya seakan lupa kalau Ibu Prani juga manusia. Filmmaker juga lupa kalau Mbak Uli, yang diperankan oleh Annisa Hertami, adalah aktivis pendidikan karena dapat dengan mudah dia dipelintir dengan sebuah asumsi yang berhembus di media sosial tentang trauma yang mungkin ditimbulkan dari efek refleksi yang dianjurkan Ibu Prani kepada salah seorang muridnya yang kini sudah jadi alumni. Sebagai aktivis pendidikan apakah dia tidak melakukan riset yang mendalam dan hanya percaya begitu saja sehingga dia memberikan jarak juga kepada Ibu Prani yang di paruh akhir cerita meminta bantuannya? Apakah sebagai manusia, Ibu Prani juga tidak boleh ‘take’ dan egois? Apakah Ibu Prani tidak boleh memperjuangkan keluarganya yang pada saat cerita itu bergulir sedang dilanda kesusahan secara finansial? Lalu apa yang mendasari sikap heroiknya untuk melindungi muridnya, agar muridnya tersebut tidak terekspos, sementara kehidupan dirinya menjadi jauh lebih sulit lagi? Pada momen itu, film akhirnya menciptakan jarak yang cukup lebar dengan diri saya.

Prani (Sha Ine Febriyanti) dalam film “Budi Pekerti” (2023) karya sutradara Wregas Bhanuteja. Dok. Rekata Studio

Di dunia pendidikan di Indonesia, kita mengenal sebutan Guru, pahlawan tanpa tanda jasa. Bagi sebagian besar guru, ini adalah potret realita guru yang ada di Indonesia. Bahkan kalau saya boleh mengutip apa kata almarhum ayah saya, yang juga seorang guru, “Guru itu seperti sapi, makannya rumput tapi keluarnya susu.” Namun satu hal yang harus dihindarkan, menurut pandangan saya sebagai guru dan merasa kalau semua profesi itu dijalankan oleh manusia seutuhnya, tidak hanya spesifik kepada guru semata, adalah jangan sampai kutipan-kutipan di atas mengenai guru menjadi pembenaran bagi orang-orang untuk memperlakukan guru dengan seenaknya, karena toh dia memang pahlawan tanpa tanda jasa. Sangat wajar jika guru digaji dengan minim, apalagi guru-guru honorer di daerah-daerah karena mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa.

Kalau ini sampai terjadi, ini artinya kutipan tentang guru di atas adalah sebuah diskriminasi yang paling kejam bagi seorang guru sekaligus menempatkan guru bukan sebagai manusia seutuhnya yang punya kebutuhan hidup, punya aspirasi, dan punya masalahnya sendiri. Apalagi sekarang, kompetensi guru di Indonesia sedang mulai hangat dipertanyakan dan diperdebatkan. Jika guru hanya bisa mengajar murid di sekolah di satu pelajaran tertentu, tanpa mengusai psikologi dan kemampuan literasi yang memadai. Bahkan, juga ada wacana agar guru juga diperlengkapi dengan metode mengajar yang bisa menggunakan hal-hal kecil di sekitar mereka menjadi bahan ajaran. Guru juga dianjurkan untuk memiliki kemampuan storytelling yang baik dalam menyampaikan pelajaran agar tidak monoton. Kutipan mengenai guru pahlawan tanpa tanda jasa hanya akan menjadi pemadam semangat bagi guru untuk bisa meningkatkan kompetensi mereka. Toh, mereka akan diganjar dengan penghasilan yang tidak setimpal, sehingga untuk mereka berjerih lelah?

Saya rasa sudah saatnya peran dan kompetensi guru untuk terus ditingkatkan. Sudah saatnya paradigma berpikir Masyarakat bisa sedikit bergeser dan menganggap guru juga sebagai sebuah profesi yang memerlukan kualifikasi kompetensi yang memadai sehingga layak dihargai sepenuhnya. Pada awalnya, saya sedikit punya harapan kepada film Budi Pekerti, yang hampir keseluruhan aspeknya begitu sempurna, namun di satu sisi dia melupakan aspek manusia yang dibangun hanya untuk menegaskan garis lurus yang membangun sekat antara Ibu Prani dan manusia lainnya dalam film ini.

Saya jadi teringat momen-momen terakhir alamarhum ayah saya sewaktu dia hidup. Dia nampak begitu bersemangat di suatu pagi. Dia sudah mencukur jambangnya dengan tangannya yang terus menerus gemetar. Otot-ototnya yang menonjol dan berwarna kebiruan di tangannya yang begitu kurus seakan mengerahkan daya dan tenaga terakhirnya agar proses cukuran jambang ini bisa terjadi tanpa menggoreskan luka sedikitpun di wajahnya. Ya dia tidak pernah sedemikian semangatnya di hari-hari biasanya yang sebagian dia habiskan dengan berbaring dan menahan sakit di tulang punggungnya yang bengkok. Dengan segera dia mengenakan baju terbaiknya memastikan segala sesuatunya terpasang dengan sempurna di badannya. Matanya sesekali memicing untuk melihat bayangan dirinya di cermin. Maklum dia sudah uzur, penglihatannya pun semakin memudar kendati kedua matanya telah dioperasi katarak. Dan begitu dia melihat dirinya sudah rapih, dia mengajak saya dan kakak saya pergi mengantarnya ke acara reuni sekolah yang sudah dinanti-nantikannya.

Di sana dia akan naik ke atas panggung. Dia akan diberikan hadiah bersama guru-guru yang lain oleh murid-muridnya. Untuk sesaat saya bisa melihat dia bergerak tidak seperti hari-hari biasanya. Dia bahkan, memberanikan diri untuk naik ke atas panggung dengan tenaganya sendiri, kendati kedua anaknya sudah berusaha memapahnya. Untuk hari itu, dia tidak mau terlihat lemah. Untuk di hari itu, dia tidak mau terlihat sakit. Untuk hari itu dia merasa bisa menjadi manusia seutuhnya yang tidak harus terus mendekam di dalam ketidakberdayaan. Untuk hari itu dia bisa menuai apa yang telah ditanam berpuluh-puluh tahun yang lalu kendati hanya untuk hari itu saja.

Review oleh: Yoseph Setiawan Cahyadi

Leave a comment