8 Horor Mockumentary Terbaik

Mockumentary sendiri berasal dari gabungan dua kata ‘mock‘ dan ‘documentary’ yang jika diartikan secara harafiah adalah dokumenter olok-olok. Dalam sub-genre film khususnya horor, mockumentary atau biasanya juga disebut faux found footage berarti sebuah film yang dikemas dalam gaya dokumenter ‘palsu’ dengan editing ‘mentah’ untuk mendapatkan sensasi ketegangan dan keseraman tersendiri secara langsung dari sudut pandang orang pertama melalui kamera genggam yang sering kali bikin penontonnya yang tak terbiasa bakal mual dan terguncang.

Nah, berikut ini adalah 8 film-film horor mockumentary terbaik yang sudah rangkum dari berbagai belahan dunia. Enjoy!

1. Noroi (2005)

Salah satu entri mockumentary horor terbaik datang dari negeri Jepang. Usianya sudah 16 tahun sampai tulisan ini dibuat namun kengerian yang ditawarkan dari kisah paranormal investigator bernama Masafumi Kobayashi (Jin Muraki) yang tengah menyelidiki kasus mistis dan kutukan jahat kuno dalam Noroi seperti abadi tak lekang oleh waktu. Tidak peduli seberapa banyak horor yang bawa-bawa rekaman palsu datang dan pergi, teror yang diberikan Kōji Shiraishi ini akan lama tinggal dalam ingatanmu melalui rangkaian footage-footage mengerikan yang tersaji meyakinkan.

2. Lake Mungo (2008)

Tidak ada hantu atau Iblis yang mengancam, setidaknya tidak secara aktif di seperti banyak koleganya sesama horor mockumentary, namun di sini kekuatan sebenarnya Lake Mungo yang berhasil tampil solid langsung dari dua sisi berbeda. Pertama, Ia sukses sebagai drama emosional yang mengisahkan cerita duka tentang kehilangan sebuah keluarga pasca kematian putri tercinta yang tenggelam di danau. Dikemas dengan sangat baik, membuatnya susah untuk membedakan horor garapan Joel Anderson dengan dokumenter asli karena dikemas begitu baik dengan membawa wawancara dan rekaman-rekaman meyakinkan, termasuk didukung dengan casting jempolan. Kedua, ia juga bekerja dengan baik sebagai horor yang menampakkan diri melalui rangkaian foto-foto dan cuplikan rekaman yang menakutkan, belum saya menyebut bagaimana horor-tragedi ini ditutup dengan ending mencengangkan.

3. [REC] (2007)

Datang dari Spanyol, [REC] membawa ancaman dan ketegangan nyaris tanpa henti setelah reporter dan kameramen acara televisi yang tengah melakukan wawancara tengah malam kepada pasukan pemadam kebakaran mendapatkan panggilan darurat misterius dari sebuah apartemen. Dari sini mimpi buruk pun dimulai. Kalau kamu penderita klaustrofobia dan niktofobia, hindari horor ini sebisa mungkin karena serangan ruang sempit dan kegelapan yang dihadirkan langsung melalui rekaman-rekaman penuh teror ini akan membuat hidupmu menderita. Salah satu mocku horor pemacu adrenalin yang bekerja super efektif memberi ancaman nyaris tanpa henti.

4. The Blair Witch Project (1999)

Salah satu penduduk awal dari dunia mocku horor modern yang juga jadi yang paling sukses secara finansial. The Blair Witch Project sempat memberikan kehebohan luar biasa di saat perilisan perdananya dikarenakan banyak yang menganggap apa yang terjadi kepada tiga orang mahasiswa film di hutan Blair di Burkittsville, Maryland yang angker itu benar-benar nyata. Toh, meski pada akhirnya kita semua tahu kalau semuanya hanya buatan tak lantas membuat horor garapan Daniel Myrick dan Eduardo Sánchez kehilangan cengkeramannya sebagai salah satu mocku horor paling menyeramkan yang pernah dibuat.

5. Paranormal Activity (2007)

Sampai tulisan ini dibuat, wara laba Paranormal Activity sudah beranak pinak sampai melahirkan 7 seri, termasuk seri terbarunya Paranormal Activity: Next of Kin yang bakal tayang Desember 2021 ini. Sama seperti koleganya, The Blair Witch Project, Paranormal Activity pun mengalami kesuksesan finansial luar biasa berkat kekuatan marketing word of mouth yang berhasil membuatnya dibanjiri penonton. Apalagi mengingat Paranormal Activity cukup pintar dalam usahanya menciptakan kengerian maksimal dengan mengombinasikan teror dengan set yang notabene dekat dengan kita, rumah dan gaya dokumenter yang tentu saja memberikan sebuah sensasi ancaman maksimal.

6. As Above, So Below (2014)

Penderita klaustrofobia, pikir lagi jika hendak menonton mocku horor bikinan John Erick Dowdle ini. Narasi pencarian batu bertuah di kuburan bawah tanah kota Paris dengan lorong-lorong sempit, gelap, rumit dan angker bak labirin mengerikan yang siap melahap penontonnya. Tak hanya menciptakan ketakutan namun juga rasa sesak di saat bersamaan ketika dinding-dinding kuburan mulai menjepit para karakternya yang lancang. Tapi As Above, So Below yang underrated tidak cuma memberimu sekedar horor eksplorasi biasa tapi juga sebuah perjalanan spiritual, mistis, dan religi yang bawa-bawa soal dosa dan neraka jahanam.

7. Keramat (2009)

Sejauh ini Keramat masih menjadi sajian feature mocku horor lokal terbaik yang masih belum ada tandingannya sampai tulisan ini dibuat. Menjadikan set kota Jogjakarta sebagai panggung horornya, Monty Tiwa sukses besar menciptakan aroma angker dari cerita behind the scene dari para kru film dari Jakarta yang hendak melakukan pengambilan gambar di Jogja. Dari sekedar suara tangisan dan gamelan dari kegelapan, kesurupan sampai perjalanan gaib di Pantai Parangtritis di puncaknya. Semua kengerian yang muncul terasa mengerikan. Yang menarik bukan hanya kemasan mocku horornya yang membentuk rasa tak nyaman secara langsung namun film ini disyuting tanpa menggunakan skenario atau pun skrip film. Konon Monty Tiwa memberi tahu langsung apa yang harus dilakukan para pemainnya 15 menit sebelum camera roll. Gila!

8. Trollhunter (2010)

Di penghujung daftar ini kita terbang ke Norwegia bertemu dengan para mahasiswa dari Volda University College yang hendak mendokumentasikan kisah beruang bersama pemburu setempat. Tapi siapa sangka perjalanan mereka berubah menjadi mimpi buruk ketika bukannya beruang yang mereka jumpai tapi makhluk mistis raksasa dari mitologi Skandinavia yang biasa disebut dengan Troll. Ya, jujur saja, Trollhunter menjadi sajian horor berbeda ketika penontonnya tidak lagi dihadapkan pada ancaman hantu namun monster ganas super besar dan jelek yang sukses dihadirkan sutradara André Øvredal dengan nuansa serius tapi juga santai di saat bersamaan, memanfaatkan gaya dokumenter dan visual efek meyakinkan guna menciptakan rasa horor dan komedi yang sama kuatnya.

Ditulis oleh Hary Susanto a.k.a Hafilova

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s