Review Petite Maman, Memahami Relasi Ibu-Anak Lewat Sudut Pandang Bocah Cilik

Drama fantasi yang sangat minimalis, tanpa ada embel-embel atau penjelasan mendalam dari sub-genre terkait, namun kaya akan rasa dan emosi. Sebuah film yang memang benar-benar untuk “dirasa”, merasakan dunia fantasy-realism yang berhasil ter-capture elegan, menyentuh, relatable, dan terasa believable tentang hubungan ibu dan anak yang sedang berduka.

Setelah sebelumnya filmmaker Céline Sciamma lebih sering menggarap film dengan tema-tema tabu, LGBT dalam Portrait of a Lady on Fire (2019) juga Water Lilies (2007), dan identitas gender dalam Tomboy (2011), kini Sciamma lewat Petite Maman hadir lebih bersahabat, dekat, universal yang mana bisa menjangkau penonton lebih luas. Pun begitu, trademark dari seorang Sciamma yang terkenal minimalis, subtil, lamban, serta pandangannya dalam kacamata perempuan tetap tidak luntur.

Nelly bocah delapan tahun baru saja ditinggal pergi neneknya, ada perasaan duka yang jelas terasa dan terlihat, terlebih lagi ibunya yang benar-benar masih menyimpan banyak kenangan bersama neneknya. Perasaan duka ini sudah sangat kuat sedari awal film dimulai, dengan kesubtilan Sciamma kita hanya akan diperlihatkan Nelly berpamitan dengan para pasien dari pintu ke pintu bersamaan dengan ibunya yang sedang berbenah, lalu menggunakan mobil pergi meninggalkan rumah sakit/panti jompo menuju ke kediaman neneknya yang menyimpan banyak kenangan bagi ibunya. Disitulah nanti bagaimana kenangan-kenangan bisa menjadi self healing buat Nelly dan ibunya lewat narasi ibu-anak yang unik.

Narasinya jelas sesuai trademark Sciamma, tetapi sebetulnya Petite Maman adalah film yang berangkat dari konsep besar yang sebelumnya sudah banyak muncul di film fantasi ataupun sci-fi big budget, ya mengenai time travel jika kita membayangkannnya kesana. Fantasy time travel-nya memang tanpa penjelasan karena di sini kita tidak akan diperlihatkan gadget-gadget, mesin waktu, maupun teori terkait, namun bukan berarti berakhir membingungkan, semua make-sense “dengan catatan” kita sudah punya bekal sering menonton film dengan berbagai macam konsep time travel atau fantasi, sehingga di sini kita hanya tinggal membayangkan konsep dasarnya saja, karena Petite Maman jelas menghilangkan kerumitan plot ruwet menjelimet guna memfokuskan appeal nya pada kedalaman emosi, dan ini berhasil, SANGAT BERHASIL.

Bicara kedalaman emosi, kita punya duo kembar Sanz bersaudara, Joséphine Sanz dan Gabrielle Sanz yang keduanya bermain sangat apik dan natural. Detail diam, murung, senyum, tawa merupakan gestur yang berbicara banyak. Talenta yang patut diacungi dua jempol mengingat ini debut mereka di layar. Interaksi mereka berdua mendominasi pergerakan narasinya yang singkat, 72 menit, menjadi amat berbobot, tidak ada scene yang terbuang percuma ketika mereka berdua on screen, keintiman mereka jujur, polos, dan on point. Meskipun begitu Sciamma juga tetap konsisten menjaga kemisteriusan serta subtil meaning dibalik interaksi mereka berdua.

Sama seperti kebanyakan filmnya Céline Sciamma, Petite Maman pun bergerak sunyi, hening, minim music score, mungkin hanya sekali dua kali saja terdengar di film-filmnya, namun penggunaannya selalu tepat sasaran dan efektif. Contoh La Jeune Fille en Feu dan Vivaldi pada Potrait of a Lady on Fire yang begitu sangat membekas dan powerful penempatan dan penggunaannya. Pada Petite Maman ini pun sama, hanya ada satu music score yaitu Mon Coeur yang muncul di bagian penghujung film, score yang sungguh indah nan emosional, score yang menjadikan keintiman karakternya sepanjang film benar-benar terasa sampai pada titik puncak akan proses self healing dan mood booster. Ternyata tidak hanya sampai disitu, music score nya muncul kembali untuk mengisi credit roll namun kali ini dengan aransemen yang lebih hangat, sehangat pelukan Nelly & Marion di akhir.

Ditulis oleh Faraha Helmi a.k.a xipe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s