Review Tick, Tick… Boom! Yang Mengalami Quarter Life Crisis, Wajib Nonton!

Mengadaptasi teater monolog karya Jonathan Larson, Tick, Tick… Boom! adalah sajian musikal yang menyoroti pergulatan batin seorang penulis teater di usianya yang sebentar lagi memasuki 30 tahun. Membawa topik quarter life crisis, film ini akan terasa begitu dekat dan menampar bagi penonton yang sedang mempertanyakan arah serta tujuan hidupnya. Meski terdengar begitu filosofis, Lin-Manuel Miranda yang memulai debut penyutradaraannya di sini berhasil mengemasnya menjadi tontonan yang bukan hanya membawa perenungan tapi juga mengaduk-aduk emosi. Nomor-nomor musikalnya catchy, narasinya mengundang tawa sekaligus air mata, dan akting Andrew Garfield pun brilian.

Pernah nggak kamu kepikiran, “umur udah segini, tapi hidup kok masih gitu-gitu aja ya?.” Apalagi saat melihat teman-teman sebaya sudah hidup mapan baik dari sisi finansial maupun keluarga. Ada rasa tertekan belum menjadi somebody saat kamu hidup ditengah-tengah masyarakat yang mengagung-agungkan pencapaian alih-alih proses. Fase quarter life crisis yang dulu tampak begitu jauh dan tampak mustahil menghampiri nyatanya menjadi satu momok yang terus menerus menghantui selama beberapa tahun terakhir.

Butuh waktu yang tidak sebentar untuk bisa menerima kalau nggak apa-apa menjadi orang biasa-biasa saja. Nggak apa-apa butuh waktu yang lebih lama untuk bisa menggapai mimpi karena setiap orang punya jalan dan waktu berbeda-beda yang tidak bisa disamaratakan. Afirmasi saya ini kian menguat usai menonton Tick, Tick… Boom! beberapa hari lalu. Diadaptasi dari teater monolog berjudul sama rekaan Jonathan Larson, film yang mengangkat isu krisis seperempat abad ini merekonstruksi kehidupan nyata si pembuat teater saat dirinya dihadapkan pada dilema antara memperjuangkan mimpi atau mencoba bersikap realistis di usia menjelang 30 tahun.

Dalam versi film, Jonathan Larson diperankan secara brilian oleh Andrew Garfield yang berhasil melebur dengan mulus ke dalam karakternya. Selama delapan tahun, Jonathan mendedikasikan waktunya untuk mengkreasi sebuah drama panggung yang dengan harapan suatu saat bisa dilirik oleh produser dan dipentaskan di Broadway. Guna menyambung hidup di New York, dia pun bekerja sebagai pelayan di satu kedai makan. Tapi kegigihan Jonathan ini lambat laun mulai memudar kala sahabatnya yang memilih untuk kerja kantoran, Michael (Robin de Jesus), mulai mencicipi nikmatnya kesuksesan dan sang kekasih, Susan (Alexandra Shipp), merasa diabaikan.

Seolah ini belum cukup menguji fokusnya, ketua program teater di Playwrights Horizons – tempat di mana dia akan pitching untuk teater musikalnya di hadapan pelaku industri – mendadak memintanya untuk menambah satu nomor musikal di adegan yang krusial. Dikejar oleh tenggat waktu yang mepet serta keragu-raguan yang kian membesar, Jonathan pun buntu ide. Pada titik inilah dia mulai mempertanyakan jalan hidup yang telah diambilnya; Aku ini sebenernya ngapain? Udah mau 30 tahun kok masih belum menghasilkan apa-apa? Apa mending kerja kantoran aja ya dan ngorbanin ini semua?

Meski bidang pekerjaan yang digeluti oleh si tokoh utama terasa asing bagi penonton Indonesia, tapi pergolakan batinnya akan beresonansi kuat dengan penonton di atas usia 20 tahun yang kerap mempertanyakan kemampuan, kemauan, serta eksistensi diri. Itulah mengapa bagi saya pribadi yang belum lulus dari ujian quarter life crisis, Tick, Tick… Boom! terasa begitu nyata dan menampar. Jonathan adalah saya yang merasa worthless kala melihat teman satu tongkrongan sudah mapan secara finansial, Jonathan adalah saya yang merasa ingin menyerah karena merasa perjuangan mewujudkan mimpi yang dipupuk bertahun-tahun tak kunjung menampakkan hasil. Terdengar muram, ya? Tapi tenang saja, Lin-Manuel Miranda (Hamilton, In The Heights) yang memulai debut penyutradaraannya di sini tak menyajikan film dengan nada penuh kenelangsaan.

Meski film ini terkesan akan menamparmu keras-keras dengan realita, namun Tick, Tick… Boom! sejatinya ingin menguatkan manusia-manusia yang sedang berjuang di luar sana. Ada bahan renungan melalui keputusan-keputusan yang diambil oleh Jonathan yang kekeuh memperjuangkan mimpinya, Michael yang menyadari kemampuannya, serta Susan yang memahami perlunya pengorbanan. Mereka-mereka ini adalah karakter yang mengenali siapa diri mereka sebenarnya. Pertanyaannya, sudahkah kita mengenali siapa diri kita sesungguhnya?

Ditengah obrolannya yang terdengar filosofis, Tick, Tick… Boom! sejatinya bukanlah sajian yang berat dicerna. Meski gaya bertuturnya cukup unik yakni menggabungkan narasi konvensional dengan format materi aslinya berupa teater monolog dimana Jonathan Larson bercerita pada penonton teater dari atas panggung, si pembuat film tetap mengupayakan agar tak ada penonton yang merasa teralienasi sehingga bisa menyerap pesan penting yang dibawanya tentang mengenali dan memahami diri sendiri.

Nomor-nomor musikal yang diboyong langsung dari versi teaternya juga tergolong catchy dan ramah di telinga. Elemen teatrikalnya memang masih kuat, tapi liriknya yang mewakili perasaan para karakternya (serta tentu saja penonton) memudahkan kita untuk terhubung pula dengan tembang-tembangnya. Terlebih, Lin-Manuel Miranda paham betul bagaimana cara memvisualisasikannya. Nomor “Therapy” yang menampilkan duet dari Jonathan Larson dengan temannya, Karessa (Vanessa Hudgens dalam akting terbaiknya), merupakan salah satu momen emas dalam film. Pengadeganannya yang menirukan aksi boneka ventriloquist itu sungguh jenius. Alhasil, kita tidak hanya dibuat tertawa dan menangis oleh narasinya yang dilantunkan dengan tempo bergerak gesit. Tapi juga ikut diajak berdendang oleh tembang-tembang catchy yang mengiringinya. Bagus sekali!

Ditulis oleh Taufiqur Rizal, pemilik akun Twitter @TarizSolis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s