Review Paranoia, Hidangan Thriller yang Mengecewakan dan Menggelikan

Upaya Riri Riza untuk menghadirkan sajian thriller di bawah bendera Miles Films jelas tampak menggiurkan di atas kertas. Apalagi jajaran pemain yang dilibatkan juga tidak main-main; Nirina Zubir, Nicholas Saputra, dan Lukman Sardi. Semuanya bintang kelas kakap. Tapi ternyata, film ini jauh sekali dari ekspektasi. Alih-alih tontonan thriller menengangkan yang membuat jantung penonton berdegup kencang, film ini justru menjelma sebagai drama keluarga yang hambar. Intensitas yang sempat muncul di awal durasi secara perlahan terus merosot sampai akhirnya betul-betul terjun bebas di klimaksnya yang menggelikan. Salah satu film paling mengecewakan tahun ini.

Saat pandemi menyergap yang mengharuskan segala aktivitas untuk berhenti sejenak, Miles Films yang sedang menyiapkan salah satu sekuel paling dinanti-nanti oleh publik, Petualangan Sherina 2, memutuskan untuk mengisi kekosongan waktu dengan proyek ‘kecil-kecilan’. Dalam artian, film dengan pendanaan terbatas, lokasi syuting yang sedikit, dan departemen pemain yang seminimal mungkin agar protokol kesehatan di era Covid-19 dapat dijalankan secara maksimal. Alih-alih menggarap film drama keluarga atau percintaan – yang sudah menjadi ciri khas sekaligus kekuatan rumah produksi ini – Riri Riza (Petualangan Sherina, Laskar Pelangi) yang kembali menempati posisi di kursi penyutradaraan mencoba mengekspansi filmografinya dengan menghadirkan sajian di ranah thriller yang belum pernah dijajalnya. Bertajuk Paranoia, film ini terlihat begitu menjanjikan di atas kertas. Bukan cuma karena keberanian Riri untuk bereksperimen, tapi juga disebabkan jajaran pelakon yang dilibatkannya tidaklah kaleng-kaleng; Nirina Zubir, Nicholas Saputra, serta Lukman Sardi. Mudahnya, siapapun yang hafal betul dengan jejak rekam rumah produksi maupun orang-orang yang terlibat dalam film ini setidaknya akan antusias (atau minimal penasaran) menyambut kehadiran Paranoia. Terlebih thriller sendiri juga bukan genre yang umum dijumpai di sinema Indonesia.

Dalam Paranoia, kita diperkenalkan pada seorang perempuan bernama Dina (Nirina Zubir) dan putri semata wayangnya, Laura (Caitlin North Lewis). Dina yang sehari-harinya berprofesi sebagai pengurus villa di Pulau Dewata sedang dalam pelarian untuk menghindari kejaran suaminya, Gion (Lukman Sardi). Sang suami yang abusif memang masih mendekam di penjara, tapi jeruji besi tak menghentikannya buat mengirimkan orang-orang suruhan untuk memburu Dina yang melarikan diri dengan membawa sebuah patung antik milik Gion yang konon bernilai tinggi. Karena hal inilah Dina lantas berubah menjadi seseorang yang mudah sekali parno sehingga terus menerus berpindah tempat tinggal, mengganti nomor ponsel, sampai sukar percaya dengan seseorang yang baru dikenalnya. Keparnoannya semakin menjadi-jadi kala pandemi membuat Gion dibebaskan dari tahanan dan Laura berkenalan dengan seorang pria misterius bernama Raka (Nicholas Saputra) yang mendiami villa kosong di samping kediaman sementara mereka. Kedatangan Raka di waktu yang nyaris bersamaan dengan Dina membuatnya seketika mencurigai pria ini; bagaimana kalau ternyata dia adalah pria suruhan Gion? Bagaimana kalau ternyata dia lebih berbahaya dari sang suami? Bagaimana kalau ternyata dia memang ditugaskan untuk mencelakainya dan Laura? Pertanyaan-pertanyaan yang berkelebat di benaknya ini menyiratkan intensitas film akan mendaki naik, sampai kemudian kebenaran mengenai Raka pun terungkap.

— ulasan di bawah ini mengandung spoiler —

Di menit-menit awal, Paranoia sejatinya tampak meyakinkan. Akting kompeten dari Nirina Zubir memungkinkan penonton untuk mendeteksi adanya kecemasan dan ketakutan yang menghinggapi karakternya. Namun setelah misterinya mulai terungkap dan identitas Raka si pria misterius dibeberkan dengan cara yang sangat konyol bermodalkan mesin pencarian Google (syukurlah bukan dari Lambe Turah ya, Jeung!), ketegangan yang sempat menampakkan diri malah justru semakin merosot sampai akhirnya betul-betul terjun bebas di klimaksnya yang mengundang gelak tawa penonton. Ya, ketimbang tampil mencekam, film yang naskahnya ditulis oleh trio Riri Riza, Mira Lesmana, dan Jujur Prananto ini malah lebih sering mengalun datar sekaligus menggelikan.

Banyak detil yang diabaikan, banyak potensi yang dilewatkan. Salah satu contoh detil yang dipandang sepele adalah aksen bule (baca: cenderung gagap berbahasa Indonesia) yang sangat kental dari Caitlin North Lewis. Otentisitas pemakaian aksen dan bahasa memang jarang sekali dipandang serius dalam film Indonesia dan Paranoia seketika kehilangan kemampuannya untuk terasa dekat dengan penonton karena hal ini. Bagaimana mungkin seorang remaja yang tumbuh bersama orang tua yang sehari-harinya berbahasa Indonesia dan bertahun-tahun tinggal di lingkungan yang mayoritas penduduknya berbahasa Jawa seperti Temanggung, Pacitan serta Banyuwangi (sebelum mereka menetap di Bali), bisa punya logat seperti seseorang yang sehari-harinya berkomunikasi dengan Bahasa Inggris? Bukankah lebih masuk akal kalau logatnya medhok Jawa? Atau jangan-jangan, sebenarnya masyarakat di sana selama ini berbicara dengan Bahasa Inggris? Ini jelas janggal, sejanggal penokohan Laura yang tidak menambah apa-apa ke dalam penceritaan.

Saya tidak menyalahkan Caitlin. Dalam peran yang tepat, dia sangat mungkin untuk bersinar. Sedangkan Laura jelas bukan peran yang tepat untuknya. Kehadirannya seolah-olah hanya untuk diobjektifikasi dan mempermanis film dengan memamerkan lekuk-lekuk tubuhnya. Di satu adegan, dia melontarkan dialog yang sejatinya bagus, “kalau ibu nggak suka ayah, nggak usah suruh aku nggak suka juga. Ayah baik kok sama aku.” Tapi dialog ini kelewat tiba-tiba atau out of nowhere karena sepanjang durasi kita tidak melihat keberpihakan Laura pada Gion. Dia memang tampak sebal dengan Dina, hanya saja kesan yang ditangkap adalah kekesalannya dipicu oleh kehidupan yang nomaden dan bukan karena dirinya menyayangi sang ayah. Penonton bahkan tak mendapatkan informasi memadai menyoal peristiwa yang memenjarakan Gion serta bagaimana reaksi putrinya kala mengetahui bahwa ayah kesayangannya mungkin tak sebaik yang dia kira.

Bahkan obrolan soal pelaku kekerasan dalam rumah tangga yang cenderung manipulatif yang coba dilontarkan dari dialog tersebut juga gagal tersampaikan lantaran film tak pernah mengulas secara jelas bagaimana interaksi Gion dengan orang sekitar. Memang betul Dina pernah menyatakan bahwa sang suami ahli dalam mengambil hati orang lain. Hanya saja, Gion yang sejatinya diperankan dengan cukup baik oleh Lukman Sardi malah selalu tampak bengis pada siapapun dan tak pernah sekalipun terlihat bak serigala berbulu domba. Semua peristiwa dan karakteristik tokoh di film ini tak pernah ditunjukkan secara langsung, melainkan diucapkan melalui dialog yang anehnya juga jarang dibuktikan. Itulah mengapa akting Nirina sangat membantu sekali hadirkan rasa was-was karena penonton bisa mendeteksi dari kepiawaiannya memainkan ekspresi wajah dan intonasi suara, sekalipun atmosfer di sekitar tak sedikitpun menampakkan ancaman.

Kembali pada karakter Laura; selain diabaikan detilnya dengan mempertahankan logat bule si pelakon, karakter ini juga amat disia-siakan potensinya. Kecintaannya pada sang ayah, kedekatannya dengan Raka, dan hubungannya yang renggang dengan Dina sebenarnya merupakan modal mumpuni untuk memperuncing konflik. Tapi lagi-lagi, Paranoia lebih suka memperlihatkannya joget-joget di TikTok (syukurlah nggak ada adegan dia ngocok dalgona!), berenang-renang di pantai, sekaligus sesekali merajuk ke sang ibu yang seketika membentuk anggapan penonton bahwa dia tak lebih dari remaja manja yang bisa membuat ibunya istighfar setiap detik.

Hubungannya dengan Raka yang diawali godaan sensual dimana Laura memamerkan kemolekan tubuhnya pun lantas menguap begitu saja. Tiba-tiba Laura tak peduli, tiba-tiba dia nyeletuk “berdua saja kan lebih asyik” saat Dina mengajaknya sarapan bareng Raka. Tanda-tanda kecemburuan? Awalnya saya mengira begitu. Hanya saja, seperti halnya bagaimana film memperlihatkan bahwa Laura masih mencintai sang ayah, ketidaksukaan Laura pada sang ibu karena ‘merebut’ om kesayangannya juga tak terlihat. Alhasil semua godaan di awal membuat kisah menjadi semakin membingungkan. Kenapa dia melakukannya? Untuk memanfaatkan koneksi Raka? Tapi pada saat itu, dia belum mengetahui apa pekerjaan Raka. Jika diniatkan untuk menunjukkan betapa labilnya remaja, maka keberadaan Laura di sini jelas sia-sia belaka. Film bisa berjalan tanpa kehadirannya.

Sosok Raka pun kehilangan daya tariknya secara cepat. Ya, Nicholas Saputra memang memesona seperti biasa (walau kelihatan sangat kebosanan), tapi Paranoia membongkar identitasnya kelewat dini yang menghilangkan sisi misteriusnya. Film pun tak berusaha untuk memunculkan dugaan lain dengan tanya, “benarkah dia bisa dipercaya?”, dan justru kelewat jelas ingin mengaturnya agar dia bisa menjalin hubungan percintaan bersama Dina. Terungkapnya identitas Raka adalah titik awal merosotnya intensitas film ini yang mendadak berubah dari thriller menjadi drama romantis. Tak ada lagi ketegangan, tak ada lagi ancaman. Apalagi orang suruhan Gion yang sempat berpapasan dengan Dina di awal film pun lebih memilih bersantai ria di villa ketimbang memburu Dina. Ya saya pun akan begitu, nggak mau ngambil risiko ketularan Covid, Pak. Mending bersenang-senang di villa pribadi, bukan?

Saat Gion akhirnya muncul, sosoknya yang berulang kali diceritakan berbahaya ternyata hanyalah bualan belaka. Saya betul-betul ‘terperangah’ dengan klimaks ini – ditambah fakta klimaks ini muncul dari hasil pemikiran tiga orang hebat dalam sinema Indonesia. Pengadeganan pertarungannya aneh yang membuat penonton kesulitan mencerna apa yang sebetulnya sedang terjadi, begitu pula dengan solusi yang ditawarkan untuk melawan kebatilan. Kata kuncinya adalah terpelanting. Si jahat tumbang akibat kebodohannya sendiri. Seolah ini belum cukup membuat saya tak bisa berkata-kata, Paranoia memilih untuk memberikan konklusi yang memenangkan cinta. Menyandingkan Dina dengan Raka sebagai pasangan yang disambut teriakan gembira dari Laura. Saya tak bisa mengartikan makna dibalik teriakan Laura ini; apakah dia bahagia karena sang ibu punya pasangan baru, atau dia bahagia karena om-om yang pernah digodanya sekarang ada kemungkinan menjadi ayah tirinya? Jika lebih condong yang kedua dan film ini ternyata sukses besar, semoga saja Miles Films membuatkannya sekuel bergenre thriller erotis sebagai bentuk penebusan kesalahan karena telah melewatkan kesempatan untuk membawanya ke arah tersebut di sini.

Ditulis oleh Taufiqur Rizal, pemilik akun Twitter @TarizSolis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s