Review Yuni, Film Indonesia Paling Powerful dan Paling Penting Tahun Ini!

Kamila Andini melakukan pekerjaan luar biasa dalam Yuni. Dengan pendekatan yang sederhana namun mengesankan, sukses menghadirkan Yuni sebagai drama tentang kebebasan kaum perempuan Indonesia dari sudut pandang bocah 16 tahun yang mencari jati diri dengan sangat emosional dan relatable. Yuni adalah salah satu film terbaik Indonesia tahun ini dan bisa jadi ia juga salah satu film Indonesia paling powerful dan paling penting yang pernah dibuat.

Dua puluh satu tahun sudah kita mengarungi abad ke-21 di mana dunia kini dikuasai kekuatan penuh internet tanpa batas dengan teknologi 5G-nya, kendaraan listrik yang tak lagi memerlukan bahan bakar cair, pembayaran non tunai untuk berbelanja daring yang menyenangkan. Tapi di balik modernisasi digital yang melaju kencang kita masih saja mendengar suara-suara sumbang, khususnya buat para kaum perempuan seperti “Kapan kawin?”, “Perempuan tidak usah sekolah tinggi-tinggi”, “Perempuan itu yang penting jago di kasur, dapur dan sumur” sampai “cepat lulus, cepat kawin” yang sering terdengar di banyak sudut-sudut gelap, khususnya di pelosok Indonesia di mana sistem patriarki yang bergandengan mesra dengan budaya dan agama masih menjadi tembok besar yang membatasi kebebasan hidup kaum perempuan di dalamnya.

Ya, seperti judulnya, Yuni bercerita soal Yuni, remaja 16 tahun cerdas, cantik, energik dan berjiwa bebas yang sebentar lagi bakal lulus SMA. Ia tinggal jauh dari kota di rumahnya yang sempit di sebuah daerah di Serang dalam keluarga ekonomi menengah ke bawah yang ayah dan ibunya mesti harus pergi jauh ke Jakarta untuk mencari uang. Dikelilingi masyarakat yang masih memegang teguh budaya patriarki, ajaran agama kental, sistem, budaya, dan mitos lama seperti di mana perempuan-perempuan diperlakukan seperti sapi perah yang cuman berfungsi untuk keperluan dapur, kasur, dan sumur.

Dilamar adalah kehormatan, di sini perempuan yang dilamar adalah perempuan yang beruntung. Mereka masih beranggapan pernikahan itu adalah rezeki dan pamali sampai menolak rezeki yang bahkan sampai datangnya bolak-balik. Tapi Yuni tak mau dinikahkan, tidak ketika ia masih mencari jati diri di usianya yang muda, tidak dengan masih banyak hal yang ingin dicobanya, tidak dengan masih banyak pilihan di depan. Tapi kini di usia masih belia, Yuni dituntut untuk cepat memilih jalan hidupnya. Apakah ia akan meneruskan pendidikannya seperti yang diharapkan? Kabur dari rumah? Atau menikah muda?

Yuni garapan Kamila Andini (The Mirror Never Lies, Sekala Niskala) adalah film Indonesia paling penting tahun ini. Tak hanya menyorot cerita karakter utamanya saja yang harus diakui bisa juga menjadi sebuah studi karakter menarik apalagi ditunjang penampilan luar biasa Arawinda Kirana, menjadikan Yuni sebagai sebuah tontonan yang terasa personal dan dekat. Sementara hampir di sepanjang film kamera dari DoP Teoh Gay Hian nyaris tak pernah lolos menyorot wajahnya sampai tingkah lakunya. Tapi di sisi lain ia juga berfungsi sebagai perwakilan suara dari kaum perempuan Indonesia yang masih terjebak di posisi semalang Yuni yang dituntut menjadi ideal oleh masyarakatnya dengan posisi tawar terbatas dari lingkungan yang masih menanggapi omongan dan gosip tetangga itu lebih penting dari keberpihakan kepada kebebasan memilih dan hak asasi individualnya.

Yuni adalah protagonis yang menarik, sekali lagi kudos buat Arawinda Kirana sukses besar menggerakkan karakternya dengan kualitas akting jempolan. Meski digambarkan sebagai pribadi cerdas nan pintar tapi ia juga seperti kebanyakan remaja kampung polos lain yang kerap penasaran karena tak punya cukup pengetahuan seks yang memadai karena apalah itu masturbasi kalau berduaan di rumah kosong saja dianggap tabu.

“Gimana sih rasanya orgasme?” tanyanya lugu dalam bahasa kental Jawa Serang kepada temannya. Ada rasa ingin tahu yang begitu besar, hasrat seksual menggebu tak terbendung dan juga pemberontakan kebebasan dari belenggu aturan dan norma sampai agama yang memuja keperawanan sebagai daya tawar besar dalam sebuah proses lamaran. 25 juta Rupiah untuk DP plus 25 juta Rupiah lagi kalau Yuni masih ‘suci’ di malam pertama nanti janji Mang Dodi si pemilik kolam renang yang melamarnya meski sudah beristri.

Yuni yang labil adalah jiwa dari narasi Kamila Andini yang terinspirasi dari puisi-puisi Indah di Hujan di Bulan Juni karangan almarhum Sapardi Djoko Damono. Yuni sendiri juga bukan karakter malaikat. Kebebasan yang diperjuangkan Kamila Andini atas tubuh dan pikirannya bukan berarti Yuni bisa memilih keputusan yang bisa begitu saja dibenarkan. Tidak ada yang bilang seks di rumah kosong dengan Yoga (Kevin Ardilova) itu benar, tidak ada juga yang membenarkan obsesi berlebih Yuni akan warna ungu sampai nekat mencuri barang teman-temannya, atau pergi mabuk-mabukan di diskotek dan minum bir murah, tapi kebebasan itu adalah hal yang diperjuangkan di sini terlepas baik atau benarnya pilihan yang diambil dan Yuni sebagai film tidak menjustifikasi soal itu.

Dan itu sekali lagi yang membuat karakter Yuni menjadi menarik dan terasa kuat karena Yuni adalah kita, manusia yang selalu ingin tahu. Meski keputusan yang diambil tak selalu benar tapi dari situ kita belajar seperti Yuni mendapatkan pelajaran penting tidak dari sekolahnya yang enggan berdiskusi soal edukasi seks atau kenapa aurat tak boleh diumbar.

Yuni belajar dari lingkungannya dari teman-temannya yang terlebih dahulu menjadi produk nikah dini atau dari Susi Cute (Asmara Abigail) si pekerja salon yang pernah jadi korban KDRT atau dari penyanyi perempuan di pinggir jalan. Termasuk juga dari kedua orang tuanya sendiri yang digambarkan sebagai pribadi yang bijak yang hanya ingin melihat putri mereka satu-satunya bahagia tanpa pernah memaksa Yuni.

Ada adegan menarik dan menyentuh antara Yuni dan ayahnya, adegan potong kuku yang hangat dan membekas, adegan yang hanya kamu temukan di versi bioskop tapi tidak di versi festival yang serba cepat itu.

Pada akhirnya Yuni mungkin tidak memberikan sebuah konklusi konkret atas permasalahan patriarki, pernikahan dini, edukasi seksual dengan segala benturan budaya dan agama terhadap kebebasan perempuan atas tubuh dan ekspresi mereka yang sudah mendarah daging, khususnya di negeri ini.

Di sini Kamila Andini juga tidak pernah mengatur atau men-judge bagaimana remaja putri seharusnya bertingkah laku karena lewat Yuni, Kamila Andini hanya ingin menunjukkan bahwa sistem ‘jahat’ ini ada dan sepertinya tetap bakal selalu ada dalam jangka waktu yang lama. Dan bagi sebagian perempuan Indonesia di luar sana, kebebasan hanya menjadi mimpi, sama seperti judul lagu Anggun C. Sasmi yang dipakai untuk menutup Yuni dengan kegembiraan dan senyum yang getir.

Ditulis oleh Hary Susanto a.k.a Hafilova

One thought on “Review Yuni, Film Indonesia Paling Powerful dan Paling Penting Tahun Ini!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s