Review Black Swan, Ambisi Balerina yang Berbahaya

Dua tahun yang lalu, The Wrestler milik Darren Aronofsky mampu memukau penonton seluruh dunia dengan cerita luar biasa tentang seorang pegulat kawakan yang terbilang biasa saja. Tahun kemarin, tepatnya Desember 2010, Aronofsky kembali dengan film luar biasanya. Kali ini bukan profesi pegulat lagi yang disorot, melainkan profesi balerina. Film terbarunya itu berjudul Black Swan.

Film yang mempunyai kans besar untuk mengantongi piala Oscar pada bulan Februari mendatang ini terbilang sebagai film Aronofsky yang tidak biasa. Mengapa? Dalam Black Swan, Aronofsky banyak memasukkan elemen-elemen supernatural yang dibalut dengan thriller yang terbilang intens.

Ceritanya sendiri mengetengahkan perjuangan seorang balerina bernama Nina (Natalie Portman) untuk mendapatkan peran “The Swan Queen” dalam pagelaran balet yang akan diadakan dalam waktu dekat. Peran ini terbilang sulit karena Nina dituntut oleh mentornya, Thomas (Cassel), untuk bisa memerankan dua karakter yang bertolak belakang, yaitu White Swan dan Black Swan. Thomas sendiri yakin akan kemampuan Nina dalam memerankan White Swan. Namun, untuk Black Swan sendiri, Thomas belum yakin bahwa Nina bisa memerankannya dengan sempurna.

Di saat seperti itulah datang seorang balerina lain bernama Lily (Kunis) yang mempunyai kemampuan sama hebatnya dengan Nina. Terancam dengan kedatangan Lily, Nina berusaha mati-matian agar bisa menyuguhkan tarian White Swan dan Black Swan dengan sempurna sehingga Thomas bisa mempertahankan posisinya sebagai The Swan Queen. Karena obsesi Nina akan peran The Swan Queen itu pulalah, ia banyak mengalami kejadian aneh. Kondisi ini membuat orang-orang terdekatnya khawatir, termasuk ibunya, Erica (Hershey), yang selalu memanjakan ia sepanjang hidupnya.

Kesempurnaan adalah sesuatu yang diinginkan semua orang, tapi kita pasti ingat wasiat orang-orang bijak: tidak ada yang sempurna. Black Swan secara eksplisit menggambarkan sosok Nina yang haus akan kesempurnaan. Dalam kasus Nina, tarian Black Swan adalah puncak kesempurnaannya. Oleh karena itu, Nina melakukan apa pun demi mendapatkan peran yang dia impikan tersebut. Sayangnya, Nina tidak bisa mengontrol obsesi itu. Ia pun mulai merasakan keanehan, baik di dalam dirinya maupun di lingkungan sekitar, seperti perasaan bahwa semua yang ada di sekelilingnya ingin merenggut kesempurnaan yang dia idam-idamkan.

Depresif dan mencekam. Itulah ciri khas yang tidak pernah ditinggalkan Aronofsky. Seperti pada  film-film terdahulunya, Black Swan menampilkan sesuatu yang bisa dibilang biasa saja, tapi menjadi sebuah cerita luar biasa karena disajikan dengan cara dan sudut pandang yang berbeda. Natalie Portman pun menjadi pilihan utama Aronofsky untuk memerankan karakter Nina yang obsesif sekaligus destruktif, dan Aktris mungil nan seksi ini berhasil menyajikan hal tersebut dengan sempurna.

Inilah penampilan Natalie Portman yang paling menyita perhatian di film tersebut jika dibandingkan dua karakter lain yang diperankan oleh Vincent Cassel dan Mila Kunis. Bagaimana tidak? Natalie Portman bertransformasi menjadi seorang balerina sempurna yang berhati lembut di luar sekaligus rapuh di dalam. Sama seperti karakter yang diperankan oleh Mickey Rourke dalam The Wrestler, Natalie Portman pun menjelma menjadi seseorang yang berusaha untuk menjadi dua pribadi yang berbeda, tapi dalam artian yang lebih depresif.

Well, film terbaru Aronofsky ini bisa dibilang film paling depresif sekaligus paling mengharukan di tahun 2010. Overall, jika Anda pecinta film-film milik sutradara kelahiran Brooklyn, New York, tersebut, Black Swan tidak boleh Anda lewatkan. Enough said, just enjoy the ballet from Aronofsky!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s