Review Escape Room: Tournament of Champions, Beneran Seperti Teka-Teki!

Ada kejutan dalam setiap sudut ruangan pada permainan escape room. Selalu ada teka-teki yang menunggu untuk dipecahkan. Selalu ada petunjuk yang menanti untuk ditemukan. Yang udah pernah mencoba permainannya, pasti paham sensasi mendebarkan tersebut. Sutradara Adam Robitel, agaknya, hobi bermain dan punya statement soal itu. “Siapa yang lebih pantas membuat permainan jika bukan pemenangnya?” begitu bunyi dialog dalam salah satu adegan Escape Room: Tournament of Champions. Sebagai sutradara, Adam adalah the real mastermind di sini. Film Escape Room yang ‘dirancangnya’ 2019 lalu begitu sukses disukai, walaupun menuai banyak kritik dari segi cerita dan karakterisasi. Karena di sisi satunya, Adam paham merancang berbagai permainan teka-teki dengan desain set pieces yang memukau. Dan di sekuel kali ini, dia melakukan hal tersebut sekali lagi. Bahkan dengan kejutan yang lebih besar! Selain menyuguhkan sejumlah permainan baru yang lebih greget, Adam Robitel mengekspansi dunia tentang perusahaan Minos dan protagonis Zoey, memberikan twist dan karakter yang mengejutkan, dan mengemas semua itu ke dalam bukan hanya satu, melainkan dua versi cerita!

Kesukseskan film Escape Room memang jadi kejutan awal tahun pada 2019 yang lalu. Konsepnya yang diangkat dari permainan escape room (sejumlah pemain harus memecahkan serangkaian teka-teki dalam berbagai ruangan dalam batas waktu tertentu) ternyata tertranslasikan menjadi petualangan teka-teki superseru untuk kita ikuti. Stake-nya pun dinaikkan, permainan tersebut dijadikan sebuah pertaruhan hidup atau mati. Salah menjawab teka-teki, peserta bakal membayar hukuman dengan nyawa. Wahana hiburan yang kita kenal di dunia nyata itupun berubah menjadi sajian thriller atau horor yang mendebarkan. Ending dari film tersebut lantas mengisyaratkan masih ada kelanjutan dari kisah tersebut, dengan indikasi ada sesuatu yang lebih besar sebagai dalangnya.

So, here we are, menatap sekuel dari film tersebut. Escape Room resmi menjadi sebuah franchise. Dan melihat treatment yang diberlakukan pada film keduanya ini, Escape Room tampak benar-benar dibangun sebagai sebuah teka-teki. Bagaimana tidak? Escape Room: Tournament of Champions dirilis pertama untuk streaming pada September 2021, dengan perbedaan yang cukup besar dengan versi yang dirilis untuk bioskop pada November 2021 ini.

Mengingatkan Kepada Sekuel The Hunger Games

Ketika Cine Crib menanyakan siapa yang hendak mengulas Escape Room 2, aku mengangkat tangan menjawabnya. Seketika aku merasa seperti Katniss Everdeen dalam The Hunger Games yang ngacung jadi volunteer dalam permainan mempertaruhkan nyawa. Karena aku tahu Escape Room bukanlah tipe film yang mendalam secara karakterisasi, melainkan tipe film untuk hiburan. Masalahnya aku tahu akan susah terhibur nontonin karakter-karakter yang tidak bisa aku pedulikan. Aku sepakat dengan para kritikus untuk soal satu itu. Tapi toh aku penasaran juga sama teka-teki dan permainan yang bakal dihadirkan.

Escape Room 2 ternyata semakin mengingatkanku sama The Hunger Games, tepatnya pada sekuelnya. Karena kini, Escape Room 2 juga bercerita tentang para juara terdahulu yang harus bermain kembali. Jadi ceritanya, Zoey dan Ben – duo penyintas film pertama – bertekad untuk menguak perusahaan Minos, dalang di balik permainan escape room tersebut. Malangnya, Minos ternyata punya kuasa yang lebih gede dari yang mereka perkirakan. Zoey dan Ben kembali tertangkap (alias dijebak). Kereta bawah tanah yang mereka naiki ternyata adalah bagian dari permainan. Dan mereka berdua kali ini dipaksa kembali bermain, bersama sejumlah peserta lain yang juga pernah selamat dan memenangkan permainan ini.

Karakter-karakter baru tersebut bahkan lebih dangkal lagi dibandingkan dengan karakter-karakter pendukung pada film pertama. Paling tidak, di film pertama kita tahu permainan itu didesain sesuai dosa atau kelemahan mereka masing-masing (yea, ala Saw). Di film kedua, para juara itu tidak punya banyak karakteristik selain seputar situasi game yang pernah mereka menangkan. Kalopun ada, maka itu akan sangat random. Misalnya, ada satu karakter yang ternyata diungkap tidak bisa merasakan sakit. Itupun tidak mengarah ke mana-mana. Menyebutnya turnamen seperti kata judul, sungguh melebihkan. Karena, pada dasarnya, para juara ini hanya penambah jumlah korban saja. Para karakter pendukung di sini, begitu minim fungsi, sehingga hampir terasa seperti mereka ‘disembunyikan’ dengan sengaja oleh narasi. Dan di sinilah interest-ku terhadap keseluruhan film ini meningkat.

Hampir seperti semua tantangan itu, termasuk para peserta, dirancang khusus untuk Zoey, tokoh utama cerita. Walaupun secara akting masih standar (Taylor Russell, saat sedang excited mecahin kode dengan saat sedang ketakutan, masih terdengar sama) tapi di sini, karakter Zoey yang ia perankan, memang lebih menarik. Alih-alih berusaha menebak siapa, di film kedua ini arc Zoey adalah berusaha menghentikan Minos. Menguak apa Minos sebenarnya. Jadi, cerita Zoey lebih fokus. Aku menemukan lebih mudah bersimpati kepadanya di film ini. Pilihannya memanjat dan exit lewat bulan palsu; memilih untuk lewat di jalan yang bukan seharusnya, merupakan pilihan menarik. Menambah lapisan pada karakternya, karena kita tidak pernah melihat dia seperti ini sebelumnya.

Death Traps Tanpa Menjadi Torture Porn

Yang terutama bikin Escape Room menarik untuk penonton (gak peduli apa kata kritikus) tentu saja adalah permainan-permainan berbahayanya. Konsepnya ini mungkin mengingatkan kepada Saw. Tapi untungnya, Escape Room tidak pernah tergiur untuk menjadi sadis-sadisan. Jebakan ruangan Escape Room memang mematikan, hanya saja film berhasil mempertahankan ruh permainan escape room itu sendiri. Semuanya adalah tentang pemecahan teka-teki, dan ruangannya itu sendiri. Sehingga jadi menyenangkan untuk kita ikuti.

Set pieces yang dihadirkan selalu ciamik. Escape Room tidak berisi alat penyiksaan yang brutal, melainkan ruangan yang tampak tak berbahaya. Ruangan sehari-hari, malah. Dalam film pertama misalnya, kita melihat ruang tunggu yang ternyata bisa berubah menjadi oven. Memanggang peserta. Bahkan ruangan itu bisa berupa pemandangan outdoor yang sekilas tampak luas. Kreasi ruangan inilah yang membuat film terasa dinamis, dan tak terduga. Kita jadi ikut terhanyut, ikut berusaha memecahkan teka-teki. Menebak petunjuk. Sembari menikmati dekorasi yang menakjubkan.

Beberapa ruangan yang muncul pada film kedua ini adalah pantai, dengan jebakan pasir hisap. Pinggir jalan raya, yang ternyata adalah jebakan hujan asam. Kereta bawah tanah, yang berubah jadi penghantar listrik super. Favoritku adalah ruangan luas dengan setting bank. Zoey dan peserta lain harus bertindak layaknya maling, mereka harus memecahkan teka-teki laser, dengan begitu banyak petunjuk dan kode yang bisa kita ikut pecahkan. Serangkaian ruangan penuh jebakan ini punya satu tema yang sama. Tema yang jadi bagian dari teka-teki besar yang harus dipecahkan oleh Zoey untuk mengungkap Minos.

Secara cerita, keajaiban ruangan tersebut memang jadi karakter dari antagonis, yakni Minos. Salah satu realisasi mengerikan yang muncul pada Zoey terkait rancangan ruangan dan jebakan itu adalah bahwa apa saja yang tampak nyata, ternyata bisa saja adalah jebakan Minos. Sekali lagi, ini menambah depth atau lapisan untuk pembangunan dunia cerita film ini. Dan selagi Zoey mulai seperti terperangkap di dunia nyata yang semuanya adalah milik Minos, film ini pun semakin menjelma menjadi teka-teki.

Perbedaan Versi Bioskop dengan Versi Digital/Streaming

Film yang merilis banyak versi atau cut, memang bukan hal baru. Namun yang dilakukan oleh Escape Room 2 ini lain dari yang lain. Antara versi bioskop dengan versi alternatif yang tayang di platform streaming, perbedaannya bukan sekadar satu-dua adegan extended. Melainkan memang punya perbedaan signifikan pada bagian opening dan ending. Malah karakter penting yang muncul pun, berbeda. Setelah paragraf ini kita akan membahas perbedaan kedua versi, jadi akan ada sedikit spoiler-spoiler ringan.

Versi bioskop langsung memfokuskan kepada Zoey. Kita melihat dia bicara kepada terapis, seputar pengalaman buruknya di film pertama. Kemudian, dirinya dan Ben pergi ke New York, batal naik pesawat dan memutuskan lewat jalan darat. Di tengah perjalanan, mereka masuk jebakan Minos dan harus melalui serangkaian permainan maut lagi. Setelah tantangan terakhir, Zoey dan Ben terpisah. Zoey ketemu sama satu karakter yang seharusnya sudah mati pada film pertama. Mereka lalu berusaha menyelamatkan Ben. Lalu bersama-sama melapor kepada polisi. Versi bioskop berakhir dengan cliffhanger, Zoey berada dalam pesawat yang sekali lagi ternyata merupakan jebakan Minos.

Untuk versi streaming, cerita sedikit lebih panjang. Kita terlebih dahulu dibawa melihat ke rumah seorang perancang escape room. Kita melihat keadaan keluarganya yang punya kaitan dengan rangkaian jebakan yang harus dilalui oleh Zoey nanti. Setelah itu, film ini berjalan persis seperti versi bioskop tadi. Zoey dan Ben di kereta, dan tertangkap. Perbedaan datang lagi setelah tantangan terakhir. Zoey ternyata berada di rumah pada awal cerita. Di sini yang ia temui bukan karakter lama, melainkan karakter yang sama sekali baru (diperankan oleh Isabelle Fuhrman aka si Esther di film Orphan) Zoey dan karakter baru ini bekerja sama, menyelamatkan Ben (dalam situasi yang sangat berbeda dengan versi bioskop). Cerita berakhir dengan twist. Kita tidak lagi bersama Zoey yang ke kantor polisi, melainkan tetap di rumah itu. Dan adegan penutupnya cukup dark, dan terasa sangat ala ending-ending Saw dengan flow pengungkapan yang mengejutkan.

Dua versi, dengan dua plot-penting dan ending yang sangat berbeda. Kenapa dibuat begini? Kan jadi teka-teki. Ke mana sebenarnya Adam Robitel membawa cerita franchise ini? Well, menilik dari gambaran-besar, sebenarnya dua ending ini punya tujuan yang sama. Memperlihatkan seberapa besar kekuasaan Minos di dunia cerita. Memperlihatkan bahwa Zoey masih jadi bidak pada papan catur mereka. Bedanya, film versi bioskop menitikberatkan kepada Zoey saja. Zoey yang dihadapkan pada pilihan besar yang diungkap saat menjelang akhir. Sedangkan pada versi streaming, kita diberikan jendela yang lebih luas untuk melihat dari sisi Minos. Kita melihat ada ‘kekuatan’ baru yang bangkit, menggantikan yang lama. Besar kemungkinan, opening dan ending versi ini bakal dihadirkan sebagai prolog atau hook pada film ketiga versi bioskop nanti (film ketiga akan melanjutkan versi bioskop). Karena memang, bagian opening dan ending versi alternatif itulah yang benar-benar terasa sebagai materi baru yang menguak dunia-cerita lebih jauh tanpa terasa klise (tanpa ada karakter yang udah mati, ternyata masih hidup).

Makanya, aku lebih suka sama versi streaming. Meskipun bangunan naskahnya agak lebih berantakan, tapi ada progres pada narasi. Ada development baru yang menarik. Film yang versi bioskop terasa berputar di situ-situ aja; Zoey-nya di awal dan akhir cerita itu masih ada di ‘tempat’ yang sama. Awal dia kejebak di kereta, di akhir dia kejebak di pesawat. Seperti tidak ada progres. Kalo hanya nonton yang versi bioskop, aku gak akan excited nunggu film ketiga. Karena kayak berulang aja. Enggak kayak pas selesai nonton versi alternatif, yang mitologi/dunianya semakin berkembang dengan kehadiran tokoh baru. Bagaimana dengan kalian? Sudahkah kalian menonton kedua versi Escape Room: Tournament of Champions ini? Kalian lebih suka versi yang mana?

Ditulis oleh Arya Pratama Putra dari mydirtsheet.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s