Dear David dan Problem Identitas Remaja

Sebagai sebuah PH yang belum menginjak usia 10 tahun, Palari Film sudah menunjukkan kedewasaan dalam menyikapi dan mengemas sebuah isu untuk dipresentasikan ke dalam sebuah film. Di Posesif, Palari mengetengahkan isu toxic relationship dengan kemasan yang tidak biasa. Kemudian di Aruna dan Lidahnya, ada kisah cinta antara dua manusia dewasa di tengah isu rumor tentang flu burung dan penjelajahan kuliner di beberapa kota di Indonesia yang secara visual memanjakan mata namun secara isi juga tidak bisa dipandang sepele. Kini di film terbaru mereka, Palari kembali menggebrak genre romansa remaja dengan pendekatan yang segar dan lekat dengan dunia remaja. Problem identitas serta penerimaan diri (self acceptance).

Dear David memang sebuah suguhan yang sangat berbeda. Menonton Dear David mengingatkan saya pada film-film coming-of-age seperti Juno atau Yuni yang kendati dari luar packaging-nya kelihatan begitu remeh, tetapi ketika ditelisik lebih jauh punya signifikansi yang mendalam. Usia remaja memang bukan usia yang dianggap remeh seperti asumsi orang dewasa. Justru usia remaja adalah sebuah gerbang atau lebih tepatnya sebuah persimpangan di mana seorang anak kecil, yang tadinya punya privilege serta dukungan yang luar biasa dari lingkungan keluarganya, akan memasuki sebuah kedewasaan di mana mereka akan kehilangan semua privilege itu tadi. Dan inilah yang menjadikan masa remaja serta film Dear David itu menarik.

Secar garis besar Dear David mengetengahkan karakter utama bernama Laras, seorang siswi berprestasi serta penerima beasiswa, yang ternyata punya fantasi liar terhadap seorang lelaki bernama David, yang juga teman sekolah dan gerejanya. Dia kerap menulis cerita-cerita liar tentang David di platform online untuk konsumsi dia sendiri (tidak dipublikasikan). Namun ternyata, tanpa Laras sadari akunnya bocor dan semua isi kepala Laras menjadi konsumsi publik. Tentu saja Laras menjadi malu dan berusaha sekeras mungkin untuk menutupi kenyataan kalau dialah penulisnya. Tentu saja keadaan menjadi semakin kompleks ketika David sendiri tahu kalau Laras lah yang menulis blog tersebut dan meminta Laras untuk membantunya mendekati Dilla, kembang sekolah Cahaya tempat mereka belajar.

Sekilas dari sinopsisnya, film ini tidak menawarkan sesuatu yang baru. Film ini bisa jadi sebuah film yang medioker seandainya sutradara dan penulisnya tidak punya kegelisahan dan keresahan yang ingin dibagikan melalui cerita tersebut. Beruntung, cerita film ini ditulis dengan baik oleh Winnie dan Daud serta dieksekusi dengan baik oleh Lucky Kuswandi, di mana perspektif mereka bisa menghadirkan kesegaran baru bagi cerita cinta segitiga remaja yang merupakan barang yang sudah tidak baru lagi.

Baik Laras, David, dan Dilla punya masalah identitas yang tidak mau mereka pertontonkan ke publik. Laras dengan fantasi liarnya kendati dia punya imej sebagai murid teladan dan ketua OSIS, David yang digilai karena badannya yang atletis, dadanya yang bidang, serta skill bermain bolanya yang ciamik, namun jauh di dalam dia menyembunyikan kerapuhan dan traumanya yang termanifestasikan ke dalam wujud serangan panik yang kerap dia alami. Dan tidak lupa Dilla yang berusaha sekuat tenaga menyembunyikan identitasnya serta preferensi seksualnya yang tidak biasa di balik postingan media sosial serta topeng yang seolah-olah mengisyaratkan kalau dia punya preferensi seksual seperti orang pada umumnya.

Dear David. Caitlin North Lewis in Dear David. Cr. Courtesy of Netflix © 2022

Dengan cerdas, baik penulis dan sutradara menonjolkan aspek manusiawi dari ketiga karakter ini yang justru terlihat setengah menikmati “false persona” yang beredar di masyarakat. Mengapa? Karena ini adalah tempat persembunyian yang aman dari rasa sangsi akan penerimaan yang selama ini mereka rasakan. Setidaknya dengan false persona ini mereka bisa diterima walaupun hanya sebagian dari diri mereka yang diterima. Namun semua false persona ini runtuh di akhir babak kedua dan meninggalkan ketiga karakter ini pada pilihan yang krusial untuk hidup mereka. Dan pilihan itu diwakilkan ke dalam apa yang Laras pidatokan di atas panggung sekolah di mana dia memilih untuk memeluk kemanusiawiannya alih-alih merasa bersalah.

Dengan gamblang skenario dari Winnie dan Daud juga menggambarkan betapa sekolah seringkali bukan menjadi tempat yang aman bagi setiap muridnya untuk berkembang sesuai potensi yang mereka miliki dan menjadi diri mereka sendiri. Di film Dear David, sekolah hadir sebagai entitas antagonistik yang justru berusaha menempa murid untuk menjadi seragam serta merasa bersalah karena harus terlahir dengan perbedaan yang seharusnya adalah sebuah keniscayaan yang tidak terelakkan. Dear David memang bukan film yang mudah untuk dipahami. Sutradara begitu cerdas mengambil packaging romansa remaja agar penontonnya bisa ikut tertarik dan terlibat dalam pahit getir perjalanan ketiga karakternya, namun jika kita berusaha sedikit untuk melihat lebih dalam ke dalam diri kita sendiri, film ini akan punya resonansi yang lebih kuat dari rasa baper karena cinta harus bertepuk sebelah tangan. Film Dear David sejatinya adalah sebuah pengingat bahwa siapa pun dan di mana pun kita berada, kita punya hak untuk bisa menjadi diri kita sendiri.

Review oleh: Yoseph Setiawan Cahyadi

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s