Review Midnight Mass, Tuhan, Manusia, dan Iblis

Tidak ada lagi rumah hantu, di Midnight Mass Mike Flanagan dengan caranya yang cantik sukses membenturkan kisah para pemabuk agama dan cerita horor klasik degan hati yang besar. Misterinya bersembunyi di tiga episode pertama yang bikin kepo. Dan ketika alurnya mulai lambat dan karakter-karakternya mulai menjadi cerewet, sabar, semuanya akan dibayar lunas oleh ending tak terlupakan.

Saya menjuluki Mike Flanagan sebagai “bapak horor dengan hati”, hati yang besar bahkan. Bukan sembarang julukan mengingat apa yang telah dilakukannya di hampir semua karyanya di mana Flanagan sangat lihai mengolah dua elemen berbeda; horor dan drama dalam sebuah keseimbangan luar biasa yang sukses meleburkan kengerian dan ketakutan dengan cerita kesedihan, trauma, dan rasa cemas penuh emosi dari manusia-manusia dengan segudang masalah hidup di dalamnya. Lihat saja Before I Wake (2016), Gerald’s Game (2018), Doctor Sleep (2019), sampai dua mini serial TV; The Haunting of Hill House (2018) dan The Haunting of Bly Manor (2020) yang melambungkan namanya sebagai salah satu sutradara spesialis horor yang diperhitungkan.

Di Midnight Mass, Flanagan tidak lagi membawa serta bangunan rumah dan mansion besar berhantu dengan segala rahasia muram di balik tembok besar dan setiap ruangan dinginnya, sebagai gantinya ada Crockett Island, sebuah pulau kecil terisolasi dari dunia luar dengan populasi kurang dari 200 orang sebagai panggungnya dalam usahanya untuk membenturkan narasi horor dan religi dalam tujuh episode yang dipenuhi kekacauan yang menyenangkan.

Semua dimulai ketika Riley Flynn (Zach Gilford) kembali ke pulau kelahirannya dengan rasa bersalah hebat pasca empat tahun dipenjara akibat kecerobohan berujung hilangnya nyawa seorang perempuan muda dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Dari sini ceritanya mulai melebar, menyentuh warga pulau Crockett. Dari keluarganya, teman masa kecilnya; Erin Greene (Kate Siegel), Sheriff Muslim; Hassan (Rahul Kohli) sampai kemunculan mendadak, Paul Hill (Hamish Linklater); Pastor pengganti karismatik nan misterius yang langsung memesona penduduk Crockett di misa hari Minggu pertamanya.

Apa yang dilakukannya di Midnightt Mass ini sungguh ‘jahat’ dan juga berani. Semakin mengukuhkan bahwa Flanagan memang seorang story teller horor piawai yang tidak cuman jago membuat bulu bergidik namun juga mengusik emosi. Dan untuk kasus ini, pandangan terhadap sesuatu yang kita anggap sakral dan suci bakal diuji. Dengan muatan tema lebih berat, lebih kompleks dengan segala elemen religinya yang bawa-bawa hubungan manusia dengan Tuhannya yang tersaji provokatif, bahkan disturbing, Flanagan memberi penontonnya sebuah pertunjukan kengerian berbeda yang tidak kamu dapatkan di karya-karyanya sebelumnya. Tidak hanya dari misterinya yang bersembunyi rapat di tiga episode pertamanya tapi juga dari manusia-manusia ‘mabuk’ agama di dalamnya.

Memang bakal dibutuhkan sedikit kesabaran (dan kopi yang banyak) untuk bisa menikmati gerakan pelan merangkak Midnight Mass. Setiap episodenya didominasi oleh banyak gelaran dialog-dialog termasuk monolog panjang seperti sebuah ceramah dan khotbah yang memang sengaja dibentuk Flanagan untuk mengisi kekuatan dan filosofi spiritual karakternya akan hidup dan kematian serta eksplorasi mereka dengan Tuhan melalui ragam cara.

Mungkin buat beberapa penontonnya perjalanan panjang ini akan berasa melelahkan, tetap tenang dan tawakal karena semua kesabaranmu akan dibayar lunas dengan cara Flanagan mengeksekusi setiap episode Midnight Mass bersama dukungan casting luar biasa, terutama untuk karakter religius fanatik, Bev Keane yang dimainkan fantastis oleh Samantha Sloyan yang tidak hanya sukses bikin greget di sepanjang tujuh episodenya, namun karakternya juga dibentuk Flanagan dengan pintar untuk merepresentasikan kondisi dunia ketika agama dijadikan kedok untuk kehancuran. Dan saya belum menyebut juga bagaimana kualitas teknis jempolan yang melibatkan visual cantik dengan pemilihan kolaborasi tone warna suram sekaligus terang yang sukses memancarkan aura angelic dan demonic tersendiri dari pulau Crockett, termasuk di dalamnya, para penduduk yang terobsesi akan mukjizat sampai set Gereja St. Patrick yang dipenuhi ancaman dari khotbah berapi-api Pastor Paul Hill.

Dan bagaimana pada akhirnya Flanagan meledakkan semuanya di dua episode akhir itu adalah sebuah cara hebat untuk menutup segalanya melalui siraman darah, kematian, dan air mata emosional yang bakal membuatmu tidak sama lagi melihat perayaan misa malam Paskah. Ya, akhir kata, dari kematian misterius ratusan kucing di pantai Crockett sampai rentetan Mukjizat ilahi, Midnight Mass sekali lagi menjadi sebuah pencapaian mini seri mengagumkan dari seorang Mike Flanagan. Di sini ia menghadirkan ancaman yang jauh lebih mengerikan dari hantu penasaran, mayat hidup atau monster sekalipun, yaitu adiksi manusia itu sendiri akan agama yang membutakan sampai-sampai terkadang mereka tidak lagi bisa membedakan mana bisikan ilahi atau bujukan iblis, sebuah kondisi sosial masyarakat yang terasa begitu dekat dan itu yang membuat Midnight Mass menjadi terasa semakin menakutkan.

Ditulis oleh Hary Susanto pemilik akun Twitter @Hafilova

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s