Review Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, Kritik Tajam untuk Pemerintah dan Masyarakat yang Dikemas Mengasyikkan

Sebagai film Indonesia pertama yang memenangkan piala paling prestisius dalam Locarno International Film Festival, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas jelas telah menggoreskan peristiwa bersejarah. Film garapan Edwin yang disadur dari novel populer karangan Eka Kurniawan ini pun istimewa. Selain karena jajaran pemainnya yang mengerahkan kemampuan terbaiknya – khususnya Marthino Lio, Ladya Cheryl, Ratu Felisha, dan Reza Rahadian yang tak pernah mengecewakan – film ini terasa unggul berkat gaya penceritaannya yang mengadopsi tontonan dari era 80-an, narasinya yang terasa berisi dalam melontarkan komentar sosial politik tanpa pernah lupa untuk bersenang-senang dan elemen teknisnya yang mumpuni. Bukan saja memperhatikan detil pada gaya berbusana, rias wajah maupun artistik, sang pembuat film pun memanfaatkan seluloid 16mm agar visualisasi penanda waktunya semakin terlihat meyakinkan. Tidak tanggung-tanggung, sinematografer asal Jepang turut direkrut demi mewujudkan proyek ambisius yang hasilnya juga amat impresif ini.

Beberapa bulan jelang perilisan resminya di bioskop, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas yang disadur dari novel populer rekaan Eka Kurniawan membawa pulang piala Golden Leopard dalam Locarno International Film Festival ke-74. Ini jelas peristiwa bersejarah karena menandai untuk pertama kalinya sebuah film Indonesia berhasil memenangkan penghargaan paling prestisius dalam ajang tersebut. Sontak, dunia maya pun diwarnai kekaguman, puja-puji, sekaligus rasa penasaran terhadap film besutan Edwin (Posesif, Aruna & Lidahnya) ini. Bagi mereka yang sudah merampungkan materi sumbernya tentu sedikit banyak mengetahui apa yang bisa diantisipasi nantinya. Tapi bagi yang masih asing, kemenangan ini jelas mendatangkan keingintahuan yang besar; seistimewa apa sih Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas kok bisa sampai sedemikian disayangnya oleh dewan juri?

Secara umum, film ini mengupas perihal toxic masculinity, seksualitas, hingga kritik terhadap pemerintah yang opresif. Bukan tanpa alasan yang jelas – atau semata-mata demi kepentingan estetik – sang penggubah novel memilih latar penceritaan di era 80-an. Rezim orde baru menggoreskan banyak luka, duka, serta trauma dengan mendayagunakan otoritas secara semena-mena untuk menindas, membungkam, dan menyingkirkan siapapun yang menunjukkan perlawan terhadap pemerintah. Alhasil, banyak kisah yang bisa dicelotehkan melalui salah satu fase terkelam dalam sejarah bangsa Indonesia tersebut.

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas membawa kita kembali ke tahun 1989. Di Bojongsoang, hiduplah seorang lelaki bernama Ajo Kawir (Marthino Lio) yang mendedikasikan hidupnya untuk bertarung. Konon, Ajo frustrasi lantaran alat kelaminnya tak kunjung bisa ereksi. Demi membuktikan kejantanannya, dia pun menggebuk orang di sana sini. Entah karena pengen, dilandasi motif sakit hati, atau memenuhi pesanan orang lain. Hidupnya yang semrawut ini lantas berubah kala dirinya bertemu dengan Iteung (Ladya Cheryl) yang notabene bodyguard dari salah satu targetnya. Alih-alih menaruh dendam, perlawanan keras dari Iteung yang membuat tubuh Ajo sampai babak belur justru memantik benih-benih asmara. Apalagi perempuan dambaannya ini bersedia menerima kenyataan kalau burungnya Ajo tidak bisa ngaceng.

Setelah sedikit kegundahan mewarnai kehidupan percintaan mereka, keduanya pun akhirnya meresmikan hubungan melalui ikatan pernikahan. Untuk sesaat, pasangan ini tampak bahagia dan menerima keadaan. Tapi Iteung yang tak sanggup menahan hasrat untuk memperoleh kepuasan dalam bercinta lantas serong dengan Budi Baik (Reza Rahadian) yang sudah lama menaruh hati padanya. Begitu tahu istrinya bunting dengan laki-laki lain, Ajo melampiaskan kemarahannya dengan kembali ke tabiat lamanya yang berujung bui. Dari sinilah perjalanan sang protagonis inti dalam menerima impotennya dimulai.

Demi memberi kesan otentik pada film, Edwin mengadopsi gaya bercerita ala film kelas B dari era 80-an. Tidak hanya memperhatikan detil berbusana, rias wajah, dan pernak-pernik yang populer di zaman itu, sang sutradara pun menghadirkan dialog dengan bahasa baku selayaknya film Indonesia di era keemasan Warkop DKI dan Suzanna. Bahkan, sinematografer asal Jepang, Akiko Ashizawa (Tokyo Sonata, Creepy), turut direkrut guna merekam adegan menggunakan seluloid 16mm yang sudah tak lagi dipergunakan oleh film tanah air masa kini. Pemanfaatannya bukan sekadar buat gaya-gayaan, tapi punya pengaruh penting dalam memunculkan nuansa era 80-an akhir dan 90-an awal yang kental. Bisa dibilang, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas adalah satu dari sedikit film Indonesia yang berhasil memvisualisasikan era tersebut secara nyata.

Sisi teknisnya memang tidaklah main-main. Entah berapa kali saya dibuat berdecak kagum olehnya. Apalagi jajaran pemainnya pun mumpuni. Mereka sanggup bikin penonton yakin bahwa karakter-karakter yang dimainkan memang betulan hidup sesuai latar pengisahan; Marthino Lio menunjukkan cakupan aktingnya yang lebar dengan memerankan jagoan kampung yang memproyeksikan rasa rendah dirinya melalui kejantanan palsu, Ladya Cheryl menaklukkan momen-momen dramatis sama ciamiknya dengan menangani adegan pertarungan yang secara mengejutkan dilakoninya secara luwes, Ratu Felisha tampil misterius dalam satu peran singkat yang krusial, dan Reza Rahadian sekali lagi membuktikan kalau dia layak diandalkan oleh sineas Indonesia. Dari semua pelakon, karakternyalah yang terlihat paling menyatu dengan latar waktu. Pengucapan dialognya yang lancar sampai membuatku ragu; jangan-jangan saya memang sedang menonton film tahun 80-an? Ya, dia sebagus itu.

Apiknya akting pelakon dan elemen teknis bersinergi pula dengan guliran pengisahannya. Keabsurdan cara bertutur Eka Kurniawan nyatanya bisa diejawantahkan ke dalam medium audiovisual oleh Edwin. Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas cakap memadupadankan sajian laga, drama romantis, erotis stensilan, sampai horor dari era 80-an tanpa terasa tumpang tindih. Edwin mengajak kita bersenang-senang lewat tontonan nyeleneh bin ajaib yang narasinya tidak selalu menggembirakan. Malah seringkali menyadarkan penonton pada realita pahit di negeri ini seperti adanya tekanan bagi kaum lelaki untuk menunjukkan sisi maskulinnya melalui hubungan seks maupun kekerasan, tiadanya ruang aman bagi perempuan yang rentan mengalami kekerasan seksual tanpa pandang bulu soal usia, sampai pemerintah yang menyalahgunakan kekuasaannya.

Dalam film ini, kita sepintas pula mendengar obrolan soal larangan menyaksikan gerhana matahari total di tahun 1983 dan Petrus (penembakan misterius) yang bukan semata-mata diperlakukan sebagai penanda zaman, tapi juga pengingat efektif bahwa masyarakat negeri ini pernah dibungkam sejauh itu. Dicekoki berita palsu, dilemahkan kemampuan berpikir kritisnya, dan dimusnahkan kala berani membangkang. Eka Kurniawan dan Edwin seolah melempar tanya pada penonton, “apa kita mau kembali ke masa seperti ini?”

Meski muatannya tidaklah ringan – ini bukan cuma soal burung yang ogah ngaceng – film ini tidak melulu bikin dahi mengernyit. Seperti sudah saya singgung sebelumnya, sang pembuat film turut menghadirkan sajian yang mengasyikkan di sini. Kapan lagi coba kita bisa menyaksikan adegan kebut-kebutan di jalan raya pantura yang melibatkan dua truk berhiaskan gambar-gambar dan kata-kata nakal? Kapan lagi coba kita bisa menyimak sepak terjang Ladya Cheryl menjadi perempuan tangguh yang tidak segan-segan ngebanting lelaki? Kapan lagi coba kita menyaksikan Sal Priadi (memerankan Tokek, sahabat Ajo Kawir) joget sampai meliuk-liukkan tubuh diiringi tembang dangdut di kawinan? Kapan lagi coba kita melihat film Indonesia dengan latar 80-an yang penggambarannya sedemikian otentik sampai-sampai pengambilan gambarnya memerlukan pita seluloid? Mungkin saja, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas adalah satu-satunya kesempatanmu untuk menyaksikan itu semua. Tontonlah.

Ditulis oleh Taufiqur Rizal, pemilik akun Twitter @TarizSolis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s