Review Penyalin Cahaya, Shame on Us!

Menyabet 12 piala termasuk Film Cerita Panjang Terbaik di Festival Film Indonesia 2021, dan actually memecahkan rekor Piala Citra terbanyak, film Penyalin Cahaya kontan membuat semua sinefil tanah air penasaran. Reaksi pertamaku adalah menyayangkan film ini tidak masuk bioskop. Kemudian, berubah menjadi sedikit sangsi. Apakah memang bagus; Apa jangan-jangan overpush kayak pemenang tahun kemaren itu? Dan setelah berkesempatan menontonnya di JAFF Desember ini, sekarang aku bisa memastikan Penyalin Cahaya memang layak. Paling tidak, film besutan Wregas Bhanuteja ini memanglah sebuah karya yang penting. Yang urgen sekali untuk mendapat perhatian.

Penyalin Cahaya menjepret perihal kekerasan seksual dari sudut pandang korban. Menghadirkan kisahnya itu sebagai gambaran tentang betapa sulit perjuangan seorang korban untuk mendapat keadilan. Film ini dengan naas menjawab kenapa banyak korban kekerasan seksual yang enggan untuk berbicara. Tayang di OTT alih-alih bioskop kini tampak jadi keputusan yang tepat, karena film ini WAJIB ditonton oleh sebanyak mungkin umat. Karena lebih banyak orang harusnya bisa merasakan empati kepada korban kekerasan seksual. Lebih banyak orang harusnya malu sendiri karena telah menyebabkan hal menjadi begitu sulit bagi para korban.

Konflik cerita dimulai ketika Suryani bangun kesiangan. Mahasiswi desainer web itu semalaman berpesta bersama grup teaternya merayakan pertunjukan mereka. Kini, belum lagi ingat kapan dan bagaimana dia pulang, Sur buru-buru ke kampus. Dia sudah telat menghadiri wawancara penerimaan beasiswa. Tapi Sur yang butuh banget beasiswa itu, harus membuang harapan mendapatkannya ke luar jendela. Karena pihak kampus melihat foto mabuk-mabukkan di Instagram milik Sur. Perempuan itu dianggap tak lagi berkelakuan baik. Foto-foto itu menghancurleburkan hidup dan masa depan Suryani seketika. Setelah diusir dari rumah, Sur kini menghabiskan malam-malam di tempat fotokopian milik sahabatnya. Berusaha mencari tahu siapa yang telah meng-upload fotonya tanpa ijin. Dengan cara apapun, termasuk meretas ponsel dan sosmed teman-temannya. Hanya untuk menemukan rahasia perbuatan yang lebih mengerikan telah lama berlangsung di kelompok teaternya, di lingkaran teman-temannya sendiri!

Digarap dengan nada ngepop, film ini dirancang untuk mudah diakses dan mencapai banyak lapisan penonton. Dialognya kayak percakapan keseharian anak muda pada umumnya. Suasana kampus, interaksi grup teater yang anggotanya udah akrab sehingga kayak keluarga, hingga ‘dunia’ perfotokopian pun terasa otentik. Ini adalah dunia yang juga kita temui sehari-hari. Cerita karakter yang terbangun abis mabok dan gak tau apa-apa yang menimpa dirinya boleh jadi mirip The Hangover, tetapi kita tahu tidak ada yang lucu pada cerita Penyalin Cahaya. Di balik pembawaannya yang ringan, kita langsung mengerti ada pesan yang lebih serius yang ingin disampaikan oleh film ini.

Wregas Bhanuteja, Shenina Cinnamon, dan Debut Prestasi FFI Lainnya

Separuh pertama film ini berisi pemecahan misteri siapa pelaku, apa yang sebenarnya terjadi kepada Suryani. Tugas sutradara dalam membawakan cerita ke dalam elemen penyelidikan ini adalah membuat penonton tertarik untuk terlibat. Untuk itu, kasus atau misterinya harus diungkap dengan perlahan, harus dijadikan besar – ternyata demi ternyata. Namun sutradara juga harus menjaga supaya penonton tidak terlepas dari pesan yang membayangi di balik misteri yang kudu dibuat semakin fantastis tadi. Ini jelas bukan tugas yang gampang. Banyak sutradara yang lebih berpengalaman berbelok menjauh dari inti yang ingin disampaikan dan malah keasyikan menggali lapisan misteri. Wregas Bhanuteja tidak seperti itu. Dia fokus. Dia tidak digerecoki oleh apapun. Dia tahu kepentingan cerita ini. Inilah kenapa Wregas layak sekali mendapat Sutradara Terbaik FFI. Penyalin Cahaya yang merupakan film panjang pertama baginya, terasa begitu pure. Dia membuat transisi dari film pendek ke ngerjain film panjang itu tampak mudah.

Di bawah komandonya, Wregas menghantarkan beberapa pemain dan kru kepada Piala Citra pertama mereka. And if not, kepada penampilan terbaik mereka. Shenina Cinnamon yang jadi Suryani, misalnya. Aku mungkin salah, tapi seingatku ini adalah peran utama Shenina yang pertama. Dan di sini, walaupun gak menang FFI, dia benar-benar kelihatan sudah pro. Sedari awal, perannya ini sudah berkecamuk oleh emosi. Di saat teman-temannya masih riuh rendah oleh euforia teater, Sur terpaksa harus pulang duluan karena dia punya kewajiban di rumah. Sur merupakan karakter yang terus berkonflik antara kemauan dengan keadaan. Hubungannya dengan ayah pun intens karena ini. Ketika nantinya Sur terjebak masalah yang membuat segala impiannya buyar, kita merasakan kesedihannya. Kita merasakan keputus-asaannya. Shenina membuat tidak susah bagi kita untuk bersimpati kepada karakternya. Naskah juga nanti mengharuskannya banyak tampil meledak. Beberapa emosinya memang terdengar pecah, beberapa kata ada yang keluar njelimet, tapi karena masuk pada konteks emosi dan keadaan mental karakternya saat itu, semuanya jadi tetap terasa natural.

Yang digali bukan cuma Suryani. Chicco Kurniawan yang jadi tukang fotokopi sahabatnya juga mendapat tantangan dan lapisan tersendiri. Jerome Kurnia yang jadi karakter pendukung malah kerap diberikan monolog penuh emosi, yang berhasil ia tackle dengan nada yang tepat. Semua orang tampak memberikan permainan terbaik mereka di sini. Itu juga menunjukkan betapa skenario ditulis dengan seksama dan amat matang. Meskipun ringan, tapi film ini tidak melupakan teknis, dan tidak melupakan seni dalam bercerita. Kamera yang terus merapatkan kita kepada Sur, musik yang udah seperti karakter sendiri lewat beat-beat dan ciri khas setting dunianya. Film ini menggunakan range warna hijau hingga kekuningan yang menguatkan kesan harapan semakin terkerdilkan. Dan warna itu bukanlah satu-satunya spektrum yang ada di balik Penyalin Cahaya.

Spektrum Kekerasan Seksual

Kekerasan seksual bukan melulu berupa tindak perkosaan. Bahkan bukan terbatas terjadi kepada perempuan saja. Film Penyalin Cahaya menunjukkan spektrum luas dari bentuk kekerasan seksual yang bisa menimpa seseorang, baik itu perempuan maupun lelaki. Sekadar difoto tanpa izin saja, sebenarnya sudah termasuk. Film ini memperkenalkan kepada penonton konsep konsen yang menyangkut tubuh lewat kasus atau peristiwa yang terjadi kepada Suryani, dan ternyata pada banyak lagi rekan-rekannya.

Kasus yang menimpa Sur berkembang semakin besar seiring penemuan-penemuan yang ia dapatkan dalam usahanya mencari siapa yang kira-kira telah membuatnya mabuk dan meng-upload fotonya. Walaupun at on point, kasus ini terasa terlalu elaborate (melibatkan persekongkolan dengan karakter minor tak-terduga alih-alih kerjaan satu orang yang ditutup-tutupi satu pihak sendiri) supaya perjuangan Sur semakin seru dan dramatis untuk kita ikuti, tapi film ini tetap terasa grounded. Kita tahu itulah gambaran yang tepat mencerminkan dunia nyata. Kita tidak akan salah mengenali. Tidak, saat di siaran berita dan timeline media sosial kita melihat kasus-kasus seperti mahasiswi yang dicabut dari yudisium hanya karena ia melaporkan tindak kekerasan seksual yang ia alami dari dosennya. Ataupun saat orang-orang masih terus menyalahkan korbanlah yang kurang waspada, bukannya menimpakan kepada pelaku. Tidak, ketika Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021 yang exactly membahas tentang kekerasan seksual dan perlindungan terhadap korban di lingkungan kampus masih urung disahkan.

Penyalin Cahaya berusaha respek terhadap Suryani-Suryani di luar sana. Medusa dan Perseus yang diambil sebagai pertunjukan teater Suryani mewakilkan sesuatu di baliknya. Para korban kekerasan seksual sudah seperti para korban yang dilihat oleh Medusa. Membatu. Tidak bisa bergerak, tidak berdaya untuk bersuara. Film memposisikan penontonnya supaya bisa melihat apa yang harus dilalui oleh Sur, melihat betapa gampangnya keadaan berbalik bagi perempuan yang tidak punya posisi dan power. Bukan hanya institusi, keluarga sendiri saja dapat jadi penghalang utama. Inilah yang miris. Antara Sur dengan ayahnya yang saking sayangnya hingga jadi sangat tegas dan malah menyalahkan anak sendiri, seharusnya bisa saja dibuat punya penyelesaian. Bisa saja dibuat damai. Tapi film ini, demi menguatkan perspektif nyesek yang harus dilalui korban seperti Sur, dengan dingin membuat getir hubungan ayah-anak itu.

Kecamuk Rasa Sedih, Marah, dan Malu

Bagian terbaik film ini bukan pengungkapan pelaku atau apa yang sebenarnya terjadi kepada Sur. Bagian terbaik film ini adalah ketika menampilkan rintangan yang dialami Sur hanya untuk membuktikan dirinya di sini adalah korban. Dimarahi ayah. Dijauhi teman-teman. Bahkan dikriminalisasi oleh kampus. Film dengan tepat menggambarkan keadaan emosional Sur yang bingung, marah, dan terus naik ketika dia berhasil mengungkap apa yang terjadi. Ke kita yang nonton, perasaan tersebut tertranslasikan ke dalam emosi yang bahkan lebih menohok lagi.

Aku menonton ini, awalnya merasa sedih. Karena aku percaya pada Sur. Kemudian aku merasa marah melihat dia dipersulit, dan walaupun ada juga yang membantu, mereka tak benar-benar tahu atau mengerti seberapa pelik dampak semua ini bagi Sur. Lalu aku jadi sedih total lagi, saat malah Sur yang disuruh untuk minta maaf kepada semua orang. Akan ada adegan yang super mengandung bawang terkait Sur minta maaf itu. Berkat cara sutradara memojokkan Sur lewat frame dan permainan kamera dan sudut pandang, adegan tersebut semakin bikin dada terasa sesak. Dan ultimately, aku merasa malu. Malu karena film ini ada sebagai bukti bahwa separah itu keadaannya. Semakin bagus dan mengena film ini terasa berarti semakin parah juga sebenarnya di dunia nyata kita. Malu karena aku tidak berbuat banyak untuk Suryani-Suryani lainnya. Malu karena harus sesusah itu bagi mereka, padahal tidak seharusnya begitu.

Ke mana kita semua? Menonton film ini adalah hal terkecil yang bisa kita lakukan untuk Para Suryani di luar sana.

Ditulis oleh Arya Pratama Putra dari mydirtsheet.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s