Review Aum! Ironi Di Balik Perjuangan Melawan Pembungkaman

Tampak seperti film politik serius yang membicarakan perjuangan masyarakat tanah air dibalik Peristiwa Reformasi 1998, Aum! yang tayang di platform Bioskop Online ini ternyata dikemas sebagai sajian mockumentary mengenai proses pembuatan film politik yang akan membuatmu terbahak-bahak karena kejenakaannya tanpa pernah kehilangan daya cekamnya. Di setiap menit dan setiap sudut, bahaya aktif mengintai terlebih film yang dibuat adalah produk terlarang pada masa kebebasan berbicara dikekang. Yang kemudian menjadikan film ini terasa menarik – selain pendekatan dan akting jajaran pemain yang ciamik – adalah ironi yang dibawanya. Bagaimana sekelompok muda bahu membahu memperjuangkan reformasi yang pesannya disampaikan melalui film, tapi mereka sendiri justru mengkhianati pesan yang hendak digaungkan ke masyarakat. Pemimpin yang otoriter, pembungkaman suara, serta absennya penerapan demokrasi juga bisa dijumpai dalam proses pembuatan film politik ini yang secara otomatis menjadikan lingkungan kerjanya amat toxic. Kalau sudah begitu, lantas apa yang sebenarnya mereka perjuangkan?

Aum! yang menandai untuk pertama kalinya bagi Bambang “Ipoenk” Kuntara Mukti menggarap film panjang (sebelumnya menggarap dua film pendek unik, Ayo Main! dan Love Paper) dibuka dengan menghentak. Seorang pemuda bernama Satriya (diperankan oleh Jefri Nichol yang bermain cemerlang dalam dua ‘wajah’ berbeda) berlarian menghindari kejaran dua pria di sebuah rusunawa sebelum akhirnya ditangkap oleh Adam (Aksara Dena) dan dibawa entah kemana. Sejurus kemudian, lewat pertukaran dialog antara dua karakter tersebut, penonton mendapati informasi bahwa film ini mengambil latar beberapa saat jelang Peristiwa Reformasi 1998.

Satriya adalah aktivis yang hendak menuju markas di mana rekan-rekannya sedang bersembunyi sekaligus mengatur siasat guna memperjuangkan reformasi, sementara Adam adalah tentara yang ditugaskan untuk menciduk sekelompok anak muda yang terbukti vokal dalam mengkritisi serta menentang pemerintah. Untuk sesaat, Aum! tampak memenuhi tugasnya – seperti dijanjikan oleh materi promosinya – sebagai film politik keras dengan pengadeganan bergaya teatrikal yang merekam satu masa penting di Republik Indonesia. Masa di mana banyak warga sipil mempertaruhkan nyawa demi memperoleh kebebasan bersuara usai tiga dekade dibungkam habis-habisan. Tapi ternyata, sang sutradara yang juga menulis skenarionya bersama Gin Teguh punya kehendak lain.

Alih-alih dibawakan secara serius serta mematuhi apa yang tertuang di buku sejarah, Aum! memilih untuk memaknai perjuangan mencapai reformasi, demokrasi, serta kebebasan berpendapat dengan cara yang lebih unik nan santai tapi tetap terasa nyaring dalam menyuarakan pesan sekaligus kritiknya; mockumentary. Atau dengan kata lain, seolah-olah dibuat selayaknya film dokumenter. Pendekatan yang sejatinya bukan sama sekali baru di khasanah sinema dunia (bahkan film ini punya kemiripan dengan film asal Jepang bertajuk One Cut of the Dead yang jenius itu), namun jelas merupakan suatu gebrakan bagi perfilman tanah air yang umumnya memilih jalur konvensional dalam bertutur.

Bisa dibilang film ini berani menentang arus dengan gaya bercerita yang dipilihnya di mana satu jam terakhir dari total durasi 85 menit punya tone yang sama sekali berbeda dari apa yang telah dipaparkan di awal. Seperti satu referensi judul yang telah disebutkan, Aum! berubah drastis dari sajian drama politik menjadi mockumentary jenaka nan menegangkan yang merekam proses pembuatan sebuah film terlarang. Ya, para aktivis di babak pertama ternyata hanyalah aktor yang tengah memainkan peran di satu film yang tengah dibuat. Akan tetapi, apa yang mereka perjuangkan betul-betul nyata. Para aktor ini adalah perpanjangan tangan dari seorang produser, penulis skenario, dan sutradara yang mencoba ikut berpartisipasi dalam Reformasi 1998 dengan menggarap film.

Proses pembuatan film dalam Aum! adalah alegori dari kehidupan masyarakat Indonesia jelang reformasi (bahkan masih sampai sekarang). Bukan semata-mata soal pembungkaman dari negara di mana para kru dan pemain ditampilkan sering syuting secara sembunyi-sembunyi demi menghindari aparat, tapi juga bagaimana pemimpin yang otoriter, pembungkaman suara, serta absennya penerapan demokrasi pun akrab dijumpai di ruang lingkup yang lebih kecil. Dalam konteks Aum!, ironisnya ini terjadi di proses pembuatan sebuah film yang tujuan utamanya adalah memperjuangkan reformasi dan melawan pembungkaman.

Bagaimana sang produser, Linda Salim (Agnes Natasya Tjie), kekeuh dengan visi misinya tanpa mempertimbangkan pendapat dari kru dan pemain. Atau bagaimana sang sutradara, Panca Kusuma Negara (Chicco Jerikho yang tampil menyebalkan tapi lucu), seringkali melakukan improvisasi kebablasan yang lagi-lagi tanpa terlebih dahulu meminta pendapat dari kru dan pemain. Baik Linda dan Panca sama-sama bersikap otoriter, sementara kru dan pemain seringkali hanya manut dengan perintah keduanya. Padahal Linda pernah menegaskan bahwa film adalah proyek kolaboratif dan menilik tujuan pembuatan filmnya pun semestinya pesan yang digaungkan merupakan kesepakatan bersama atau suara kelompok. Bukan suara dari satu dua orang semata. Kalau pada akhirnya film ini semata-mata menuruti ego Linda dan Panca yang secara otomatis menjadikan lingkungan kerjanya menjadi amat toxic, bukankah mereka sendiri sudah mengkhianati perjuangan yang ingin dicapai sedari awal? Jika demikian, lantas apa tujuan sebenarnya dibalik segala perjuangan ini?

Ditulis oleh Taufiqur Rizal pemilik akun Twitter @TarizSolis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s