Review Last Night In Soho, Mengejar Mimpi di Ibu Kota Inggris yang Kejam

Tidak ada komedi di Last Night in Soho tidak menjadi masalah, toh menjadi serius sesekali bukan sebuah dosa apalagi di sini Edgar Wright masih memboyong hampir semua ciri khasnya yang stylish, enerjik, dan cepat sampai pilihan soundtrack mematikan, meski kali ini hadir dalam bentuk horor psikologis yang lebih mengerikan untuk menekankan narasi tentang kesehatan mental, kekerasan seksual, racun maskulinitas, dan terutama tentang apa yang dapat dilakukan kota besar terhadap impian besar seorang wanita muda.

Rupanya membutuhkan waktu sampai 17 tahun dan tujuh film buat seorang Edgar Howard Wright a.k.a Edgar Wright untuk bisa kembali ke ranah horor pasca serangan zombi di Shaun of the Dead 2004 silam yang membesarkan namanya. Kali ini dalam Last Night in Soho, sutradara asal Inggris ini mencoba untuk sedikit keluar dari zona nyamannya. Tanpa komedi, tanpa Simon Pegg dan Nick Frost sejak akhir trilogi Cornetto; The World’s End (2013) namun masih membawa gaya sinemanya yang cepat, stylish, dan tentu saja playlist lagu yang enerjik dengan juga banyak melakukan penghormatan kepada genre horor itu sendiri.

Last Night in Soho sebenarnya punya premis cerita yang sederhana dan sudah bolak-balik dipakai di banyak film drama, tetapi yang menarik, Last Night in Soho memilih jalur horor psikologis dan menjadikannya lebih kompleks dalam perjalanannya. Narasi tentang Eloise “Ellie” Turner (Thomasin McKenzie), gadis desa yang hijrah ke London demi mewujudkan mimpinya sebagai seorang perancang busana hebat setelah ia diterima di sekolah mode ternama di ibu kota Inggris itu. Namun seperti sebuah frasa lama yang abadi, “Ibu kota ternyata bisa lebih kejam daripada ibu tiri”.

Dan benar saja, Ellie kesulitan beradaptasi dengan London yang keras, membuatnya terpaksa minggat dari asrama universitas, – terutama karena teman sekamarnya juga adalah seorang yang brengsek – ke kamar kontrakan di rumah seorang perempuan tua, Nyonya Collins (Diana Rigg). Dari kamar ini Last Night in Soho baru benar-benar memulai kisahnya. Di saat Ellie bertemu dengan Sandie (Anya Taylor-Joy) seorang penyanyi muda cantik berbakat yang tidak hanya bertindak sebagai belahan lain dirinya dari cermin dalam adegan mimpi indah namun juga waktu yang mundur ke set London era 60-an. Mimpi yang awalnya indah kemudian perlahan namun pasti menjadi mimpi buruk ketika Ellie mulai tenggelam ke dalamnya dan tidak bisa membedakan lagi batasan antara imajinasi dan kenyataan.

Layaknya sebuah horor yang memainkan psikologi sebagai tema utamanya, sisi kejiwaan Ellie sebagai karakter utama akan mendapatkan banyak sorotan di naskah garapan Wright bersama Krysty Wilson-Cairns ini. Harus diakui ini bukan cerita yang benar-benar solid, beberapa bagiannya terasa kurang digali seperti masa lalu Ellie yang ditampilkan tak maksimal, memaksa penontonnya untuk menyimpulkan sendiri apa yang terjadi dengan latar belakangnya dan beberapa terasa terlalu cepat terutama buat babak ketiganya yang diledakkan dengan twist besar itu.

Tapi usaha Wright menutup kelemahan ceritanya dengan mengombinasikannya dengan elemen misteri investigasi, dunia fashion, dan unsur-unsur supranatural sampai tema perjalanan waktu ajaib nan surealis serta penghormatannya buat horor lama seperti Repulsion-nya Roman Polanski yang datang silih berganti sukses memupuk rasa penasaran penontonnya yang berada diposisi sama dengan Ellie yang cemas dan bingung, membuat kelemahannya tak lagi terlalu menjadi masalah.

Belum saya menyebut bagaimana duo bintang mudanya, Thomasin McKenzie dan Anya Taylor-Joy tampil solid sekaligus memesona di saat bersamaan, tak hanya dari segi fisik rupawan yang sukses memanjakan mata kaum adam di 116 menit durasinya dalam balutan pilihan busana-busana cantik di catwalk berdarah Last Night in Soho namun juga kemampuan akting keduanya yang mumpuni menggerakkan naskah Wright dan memberikan kedalaman emosional pada masing-masing karakternya.

Wright membangun dunia Last Night in Soho dengan semangat paranoia akut yang dihasilkan melalui momen teror demi teror yang terasa repetitif untuk menekankan kegilaan dan kekacauan berulang yang terjadi pada diri Ellie dengan banyak pancaran dan dominasi kelap kelip cahaya merah memabukkan tak nyaman yang seperti banyak pengaruh horor Giallo untuk menyerang mental penontonnya.

Usaha Wright menghilangkan batasan antara dunia nyata dan mimpi juga berdentum sempurna dengan iringan pilihan lagu-lagu retro yang memang menjadi spesialisasi gaya sinematiknya untuk medium bercerita dan juga semakin memperkuat mood dan set Inggris suram era 60-an khususnya di distrik fashion London yang sudah dibentuk solid oleh departemen artistiknya, lengkap dengan parade sinematografi cantik dari Chung Chung-hoon, DoP langganan Park Chan-wook dengan pergerakan kamera luar biasa. Coba lihat saja salah satu adegan terbaik yang melibatkan dansa ‘threesome‘ keren nan rumit McKenzie-Smith-Joy itu.

Ditulis oleh Hary Susanto a.k.a Hafilova

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s