Home Sweet Loan: Di Mana Rumah Menjadi Beban, Bukan Tujuan

Home Sweet Loan yang dirilis pada 26 September 2024, disutradarai oleh Sabrina Rochelle Kalangie, menceritakan tentang seorang anak bungsu, Kaluna (diperankan oleh Yunita Siregar), yang tinggal bersama keluarganya di rumah yang sederhana. Kedua saudaranya, kamala (Ayushita) dan kanendra (Ariyo Wahab), sudah menikah dan mempunyai anak, sehingga rumah tersebut semakin sempit dan menyebabkan Kaluna harus tidur di kamar pekerja rumah tangga. Hal ini membuat Kaluna berusaha keras hingga mengambil beberapa pekerjaan lain agar dapat memiliki rumah sendiri, yang tenang dan jauh dari gangguan.

Kaluna dihadapkan dengan begitu banyak rintangan untuk menggapai mimpinya, dimulai dari gaji karyawan yang pas-pasan, susah naik jabatan, pengeluaran yang harus terus menerus untuk menopang keluarga. Namun, Kaluna memiliki tiga sahabat yang selalu mendampinginya dalam mencari rumah idaman: Danan (Derby Romero), Tanish (Risty Tagor) , dan Miya (Fita Anggriani). Dinamika persahabatan ini juga dibaluti dengan romansa. Seiring berjalannya cerita, kita dibawa larut dengan beban Kaluna sebagai generasi sandwich.

Film ini merupakan adaptasi dari novel yang berjudul sama, yang ditulis oleh Almira Bastari dan diadaptasi ke skenario film oleh Widya Arifianti. Widya cukup bagus dalam membungkus cerita ini menjadi skenario yang baik. Ia menciptakan eksposisi pada karakter utama yaitu Kaluna dengan cara yang tepat di film ini. Kita langsung disuguhkan dengan masalah yang harus Kaluna hadapi pada film dalam 15 menit pertama pada film. Dialog-dialog yang Widya pilih dan buat, menciptakan kedekatan kepada penonton untuk merasakan apa yang dialami karakter. Salah satu adegan kecil yang membuat penonton merasa dekat dengan film ini adalah, ketika seluruh kondisi keuangan keluarga Kaluna hancur dan ayah Kaluna meminta maaf kepada Kaluna. Kaluna hanya ingin memaafkan Ayahnya apabila ayahnya berhenti merokok.

Terlepas dari menariknya skenario Home Sweet Loan, skenario ini juga tidak lepas dari kekurangan. Hal yang paling terasa tentunya adalah lemahnya motivasi karakter pada keluarga Kaluna. Keluarga Kaluna memiliki dilemanya masing masing, namun keluarga kakak pertama Kaluna yaitu Kanendra benar benar terasa seperti antagonis pada film, hal ini terlihat tidak masuk akal dimana keluarga yang seharusnya saling mendukung dalam bentuk apapun, di film ini keluarga Kanendra seakan memiliki kekuatan lebih pada cerita, hal ini membuat Kaluna terlihat sangat lemah pada film.

Karakter Ibu pada keluarga juga tidak diperlihatkan dengan jelas bagaimana kedalaman hubungan mereka, kita baru melihat sebuah interaksi yang dekat pada keluarga ketika masalah besar tentang keuangan dan rumah terjadi. Meskipun ibu dari Kaluna mendapat porsi yang memperlihatkan rasa empati serta kepeduliannya terhadap Kaluna, hal ini dirasa belum cukup untuk meyakinkan penonton dengan emosi ibu saat menjelaskan bahwa ibu menjaminkan surat tanahnya pada pinjaman online.

Banyak keputusan yang diambil terasa tidak organik, seperti dilakukan karena tuntutan cerita, bukan karena perkembangan psikologis yang masuk akal. Ini membuat penonton sulit merasa terhubung secara emosional dan menimbulkan jarak terhadap narasi. Hal lainnya juga terasa ketika bagian akhir dari film yang terasa terburu-buru, di mana porsi penyelesaian dari setiap konflik yang dihadapi Kaluna dan keluarganya begitu cepat, membuat penonton tidak mendapat durasi untuk mencerna resolusi.

Pada Dunia cerita Home Sweet loan, Kaluna benar benar terpojokan pada semua jenis kesialan, Mulai dari hubungannya yang tidak direstui oleh keluarga pasangannya dikarenakan faktor ekonomi, harus terus mengalah pada keluarga kakaknya yang masih menginap di rumah keluarga, Sering menjadi korban dari ejekan ponakan ponakannya, hingga perbandingan kelas ekonomi Kaluna dengan rekan rekan kerjanya. Seluruh kesialan yang dihadapi Kaluna juga terasa seperti tidak memungkinankan, tekanan ini yang membuat penonton merasa aneh untuk menaruh empati pada Kaluna. Meski untuk beberapa orang terasa memungkinkan, namun mayoritas penonton justru merasa Kaluna adalah karakter penuh sial yang lebih cocok pada medium sinetron. “It is the writer’s job to make the implausible feel plausible, and the believable feel inevitable.” — Samuel Taylor Coleridge / Narrative Theory Principles.

Sebagai seorang sutradara, Sabrina Rochelle Kalangie cukup berhasil mengeksekusi Home Sweet Loan (2024) dengan pendekatan yang lembut namun sangat efektif. Ia mampu menggiring penonton untuk benar-benar masuk ke dalam dinamika keluarga Kaluna, tanpa terasa menggurui atau dramatis berlebihan. Salah satu kekuatan utama dalam film ini adalah bagaimana Sabrina berhasil membangun chemistry yang hangat antara para pemeran, terutama dalam hubungan Kaluna dan ayahnya, yang diperankan dengan sangat menyentuh oleh Budi Ross. Interaksi mereka terasa tulus, tidak dibuat-buat, dan menyimpan emosi yang dalam tanpa harus meledak-ledak.

Jika melihat rekam jejak Sabrina Rochelle Kalangie sebagai sutradara, menarik untuk membandingkan Home Sweet Loan dengan film debut penyutradaraannya, Terlalu Tampan (2019). Film Terlalu Tampan diadaptasi dari webtoon dengan judul yang sama dan sejak awal memang memilih pendekatan yang ringan, absurd, dan komedi. Film tersebut penuh dengan elemen visual kartun, efek-efek berlebihan, dan situasi yang sangat tidak realistis atau cenderung hiperbolik, misalnya saat perempuan-perempuan pingsan hanya karena melihat wajah tampan karakter utamanya. Hal ini tentu sangat berbeda dari Home Sweet Loan, yang memilih jalur drama realistis, dan penuh dengan isu-isu yang dekat dengan masyarakat urban saat ini, seperti tekanan sebagai generasi sandwich, masalah utang online ilegal, dan sulitnya membeli rumah di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil.

Namun, justru dari perbedaan dua film ini kita bisa melihat bagaimana fleksibelnya Sabrina sebagai seorang sutradara. Ia tidak terpaku pada satu gaya tertentu, melainkan mampu menyesuaikan pendekatan visual, tone cerita, hingga ritme emosi sesuai dengan kebutuhan genre dan konteks cerita. Dalam Terlalu Tampan, ia berhasil menjaga tempo komedi agar tetap segar tanpa terasa membosankan, sementara dalam Home Sweet Loan, ia menunjukkan kemampuannya merangkai drama personal dengan sentuhan emosi yang kuat namun tetap terasa alami. Terlepas dari perbedaan genre yang sangat mencolok, satu hal yang konsisten dari kedua film tersebut adalah kemampuan Sabrina dalam menjaga engagement penonton. Penonton dibuat betah mengikuti alur cerita dari awal hingga akhir, tanpa merasa bosan, bahkan dalam adegan-adegan yang sederhana sekalipun.

Kualitas storytelling inilah yang menjadi bukti bahwa Sabrina Rochelle Kalangie memiliki sensitivitas yang tinggi dalam memahami kebutuhan narasi dan penontonnya. Kedewasaan penyutradaraan yang ditunjukkannya dalam Home Sweet Loan terasa seperti lompatan besar yang membuktikan bahwa ia tidak hanya cocok menyutradarai film-film remaja komedi, tetapi juga mampu menghadirkan karya yang lebih matang, reflektif, dan relevan dengan realitas sosial saat ini.

Pendekatan sinematografi dalam film ini juga layak mendapatkan apresiasi. Penggunaan pencahayaan yang natural memberi kesan intim dan realistis, memperkuat nuansa rumah sebagai ruang aman sekaligus medan konflik emosional. Didukung oleh desain produksi yang detail dari pemilihan properti rumah sederhana, tata ruang, hingga make up dan wardrobe yang sangat membumi, film ini terasa dekat dengan kehidupan nyata penonton. Nuansa ini memperkuat empati kita terhadap karakter-karakter di dalamnya, membuat kita merasa seperti berada di tengah-tengah keluarga Kaluna.

Home Sweet Loan tidak menggunakan teknis yang extreme, shot – shot yang diambil cukup sederhana dan efisien. Pemilihan keputusan kreatif ini sangat tepat, dikarenakan film ini memiliki orientasi besar terhadap cerita. Kita dimanjakan dengan emosi dan kedalaman isu yang dihadapi karakter pada dunianya. Penggunaan teknis ekstrim justru akan mengganggu suasana cerita dan membuat pace pada film tidak stabil.

Konsistensi penggunaan eye level pada film ini membuat kita terus merasa setara dengan karakter, hal ini menciptakan nuansa immersive pada penonton untuk lebih mudah memberi empati pada karakter. Treatment yang dibuat oleh sutradara dalam memvisualisasikan cerita Home Sweet Loan cukup efektif untuk mendalami cerita serta mengangkat isu sulitnya menjadi generasi sandwich yang memiliki impian untuk mempunyai rumah sendiri.

Namun sedikit disayangkan, meski telah menggunakan shot-shot yang ringan dan memiliki orientasi pada cerita, penggunaan komposisi kamera secara keseluruhan terasa agak statis, dengan minimnya pergerakan atau variasi sudut pengambilan gambar  yang  membuat  beberapa  bagian  film  tampak  kurang  dinamis.  Hal  ini menyebabkan ritme visual film cenderung monoton, yang dalam jangka waktu durasi penuh bisa menurunkan daya tarik penonton secara tidak sadar.

Ketika sinematografi tidak berkembang atau berevolusi mengikuti ketegangan dan perubahan emosional dalam cerita, film bisa terasa stagnan secara visual, walaupun narasinya cukup kuat. Variasi komposisi sebenarnya bisa menjadi alat naratif yang efektif untuk menggambarkan perubahan konflik, relasi antar karakter, atau bahkan perkembangan batin tokoh. “Style serves narration. The look of a shot, the tempo of cutting, the staging of action—these will reinforce or modify how the story is told.”– David Bordwell, Narration in the Fiction Film.

Film ini kurang mengeksplorasi potensi visual secara berani atau inovatif. Eksperimen visual, seperti framing yang tidak konvensional, transisi simbolik, atau tekstur visual tertentu, bisa menjadi nilai tambah yang memperkuat identitas artistik dan memperdalam makna dari cerita yang disampaikan. Sayangnya, elemen-elemen tersebut kurang dimaksimalkan.

Selain itu, penggunaan warna juga menjadi salah satu elemen penting yang memperkuat suasana dan emosi cerita. Warna-warna yang digunakan secara konsisten mencerminkan dinamika kehidupan rumah tangga, mulai dari kenyamanan hingga tekanan finansial yang dialami para karakter.

Palet warna yang mendominasi film ini cenderung hangat dan lembut. Nuansa oranye, coklat muda, dan krem mendominasi sebagian besar adegan interior rumah, memberikan kesan hangat, intim, dan familiar sesuai dengan tema besar tentang rumah dan hubungan suami istri. Warna-warni ini membangun atmosfer yang nyaman, membuat penonton merasa “di rumah” dan mudah terhubung secara emosional dengan tokoh-tokohnya. Meskipun memang selaras dengan tema keras dan realis yang diangkat dalam cerita, terkadang membuat tampilan visual film terasa kurang menggugah secara estetika.

Walau warna-warna ini digunakan untuk menciptakan suasana yang murung dan menekan, tidak adanya momen-momen kontras visual yang cukup kuat membuat keseluruhan tampilan terasa datar. Dalam beberapa adegan, sedikit sentuhan warna atau permainan cahaya bisa saja digunakan sebagai penekanan emosional atau simbolik tanpa mengganggu konsistensi gaya.

Namun, dibalik kehangatan warna tersebut, ada pergeseran halus ketika konflik mulai memuncak. Dalam beberapa adegan, pencahayaan menjadi sedikit lebih dingin, dengan nuansa biru keabu-abuan yang mempertegas tekanan emosional dan ketegangan finansial yang dihadapi tokoh utama. Perubahan tone ini tidak mencolok, tetapi cukup efektif untuk menggeser suasana secara visual.

Kontras warna juga digunakan dengan bijak untuk menyorot perubahan suasana hati atau dinamika hubungan antar karakter. Misalnya, pakaian karakter utama sering kali mencerminkan kondisi psikologis mereka, dari warna cerah saat bahagia hingga warna gelap saat mereka berada dalam tekanan.

Secara keseluruhan, penggunaan warna dalam Home Sweet Loan bukan hanya berfungsi estetik, tetapi juga mendukung narasi emosional secara halus namun signifikan. Dengan pemilihan palet yang konsisten dan simbolis, film ini berhasil menciptakan kedalaman emosional melalui visual, menjadikannya tidak hanya menarik ditonton, tetapi juga terasa hangat dan relevan secara emosional.

Pencahayaan pada film ini terkadang menunjukkan inkonsistensi yang cukup mencolok, terutama pada beberapa adegan interior yang terasa terlalu gelap. Hal ini menyebabkan detail visual yang seharusnya memperkaya suasana menjadi kurang terbaca oleh penonton. Padahal, pencahayaan merupakan elemen penting dalam sinematografi untuk membangun nuansa emosional, mempertegas karakter, dan mengarahkan fokus visual. Ketika aspek ini tidak dikelola secara konsisten, dampaknya cukup signifikan terhadap pengalaman menonton, terutama dalam film yang bergantung pada atmosfer dan kedalaman emosi seperti Home Sweet Loan. Adegan-adegan yang seharusnya menyampaikan keintiman atau tekanan emosional tinggi malah terasa datar karena kekurangan pencahayaan yang proporsional.

Film Home Sweet Loan berhasil menghadirkan penggambaran visual yang sangat autentik dan realistis, terutama dalam menampilkan latar sosial dan ekonomi kehidupan karakter utamanya, pemilihan lokasi, warna dan pencahayaan yang natural berhasil memperkuat suasana keseharian yang penuh tekanan dan kesulitan finansial. Selain itu, desain produksi yang detail dengan properti setting yang sederhana mampu mendukung cerita dengan baik, sehingga penonton dapat merasakan kondisi hidup kelas bawah secara nyata.Desain produksi seperti wardrobe, property, dan tata ruang berhasil memperkuat kesan Drealis seakan akan penonton sedang mengintip kehidupan sehari hari pasangan muda.

Penggunaan simbolisme visual juga menjadi salah satu kekuatan film ini, dimana motif-motif tertentu secara halus menggambarkan beban hutang dan keterpurukan yang dialami tokoh utama. Kostum yang dikenakan para karakter juga terasa tepat dan mendukung karakterisasi, memberikan gambaran yang jelas mengenai posisi sosial mereka. Meski demikian, secara umum, walau terdapat beberapa kekurangan dari aspek visual, bidang artistik Home Sweet Loan tetap berhasil menyatu dengan narasi dan memberikan pengalaman menonton yang mendukung pesan sosial film secara efektif dan relevan.

Film Home Sweet Loan memberikan produksi yang matang dan relevan dengan kehidupan sehari hari. Lokasi syuting yang dominan di dalam rumah dipilih dengan baik, menambah kesan intim dan personal terhadap konflik yang dihadapi para karakter. Editingnya pun mengalir mulus, membantu Menjaga ritme narasi agar tidak merasa monoton. Secara keseluruhan, aspek produksi film ini mendukung cerita dengan baik dan membuatnya terasa dekat dengan penonton generasi muda yang juga sedang menghadapi tekanan hidup dan realita.

Tak hanya itu, aspek teknis editing lain seperti dan colour grading juga mendukung keseluruhan tone cerita. Warna-warna yang hangat namun sedikit pudar memberi kesan melankolis yang halus namun efektif. Backsound juga hadir di saat yang tepat untuk memperkuat emosi baik dalam momen haru, keheningan, maupun konflik. Semua elemen ini menyatu dengan baik dan memperlihatkan bahwa film ini dikerjakan dengan ketelitian dan niat yang tulus. Dengan segala kesederhanaannya, Home Sweet Loan berhasil membuktikan bahwa kekuatan cerita emosional tetap bisa dikemas dengan estetika visual dan teknis yang kuat.

Jika dibandingkan dengan film drama keluarga lain seperti Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (2020) yang disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko, Home Sweet Loan menampilkan pendekatan yang lebih ringan namun tetap menyentuh. Keduanya sama-sama mengangkat tema keluarga dan tekanan emosional yang dialami oleh generasi muda, namun cara penyajiannya cukup berbeda. NKCTHI lebih serius, cenderung kontemplatif, dan banyak mengandalkan dialog internal serta narasi puitik untuk membangun atmosfer emosional. Sementara itu, Home Sweet Loan menggunakan situasi keseharian yang lebih membumi, seperti keterbatasan tempat tinggal, tekanan ekonomi, dan konflik kecil dalam keluarga yang terasa dekat dengan penonton.

Salah satu kesamaan penting adalah kedua film sama-sama menampilkan karakter utama dari generasi milenial yang mengalami tekanan dari keluarga. Kaluna dan Angkasa, dua karakter utama di masing-masing film, sama-sama memikul beban tanggung jawab yang besar atas nama keluarga. Namun, resolusi dalam Home Sweet Loan cenderung lebih ringan dan optimis, sedangkan NKCTHI lebih menyentuh lapisan trauma mendalam dan luka antar generasi.

Dengan membandingkan dua film ini, dapat disimpulkan bahwa Home Sweet Loan menawarkan pendekatan yang lebih ringan namun tetap bermakna terhadap tema generasi sandwich dan konflik keluarga. Ini membuktikan bahwa drama tidak selalu harus berat dan simbolik untuk bisa menyentuh hati penonton, kadang justru lewat kesederhanaan dan kedekatanlah empati bisa tercipta.

Home Sweet Loan mendapatkan sambutan hangat dari banyak penonton, terutama generasi muda yang merasakan hal yang sama di dalam kisah Kaluna. Di media sosial seperti X (Twitter), banyak warganet mengungkapkan betapa dekatnya cerita film ini dengan pengalaman pribadi mereka sebagai anak bungsu, anak perempuan, atau sebagai generasi sandwich. Beberapa bahkan menyebut film ini sebagai tamparan halus bagi generasi muda yang menonton, karena berhasil menggambarkan beban hidup yang kerap dipendam tanpa dramatisasi berlebihan.

Namun, tidak sedikit juga kritik terhadap pemilihan lagu yang terlalu dominan dalam beberapa adegan. Sebagian penonton merasa bahwa musik latar dengan lirik terlalu eksplisit justru mengganggu momen reflektif dan menjadikan film ini terasa seperti video klip. Kritik lainnya mengatakan bahwa pada bagian ending dianggap terlalu cepat menyelesaikan konflik, sehingga tidak memberi ruang cukup bagi penonton untuk mencerna perubahan emosional karakter. diiringi dengan musik yang sayangnya terlalu mendistraksi fokus dari cerita ke lirik-lirik yang disuguhkan.

Meski begitu, secara umum Home Sweet Loan berhasil meraih hati banyak penonton karena relevansinya. Ini adalah film yang mungkin tidak besar secara teknis, tetapi besar dalam cara ia membuat kita merasa tidak sendirian menghadapi tekanan hidup. Respon emosional dari penonton adalah bukti bahwa film ini telah berhasil menyampaikan pesannya dengan efektif dan menyentuh.

Walaupun disajikan secara sederhana, film Home Sweet Loan (2024) berhasil mengangkat isu-isu sosial yang sangat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Film ini mengajak penonton untuk merenungkan tentang tekanan ekonomi, pentingnya komunikasi dan keterbukaan di dalam keluarga, risiko hutang online ilegal, serta perlunya meningkatkan pengetahuan keuangan dan kewaspadaan terhadap jebakan pinjaman digital.

Melalui cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, Home Sweet Loan menggambarkan bagaimana impian sederhana sebuah keluarga untuk memiliki rumah sendiri bisa berubah menjadi mimpi buruk akibat keputusan finansial yang tergesa-gesa. Karakter-karakternya ditulis dengan pendekatan realistis mereka bukan tokoh yang sempurna, melainkan manusia biasa yang dihadapkan pada dilema antara kebutuhan dan kemampuan, antara harapan dan kenyataan.

Film ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi bukan hanya berdampak pada aspek keuangan, tetapi juga pada hubungan antar anggota keluarga. Ketika masalah keuangan datang, komunikasi yang buruk bisa memicu pertengkaran, saling menyalahkan, bahkan perpecahan dalam rumah tangga. Di sinilah film ini menggarisbawahi betapa pentingnya membangun keterbukaan dalam keluarga baik dalam hal beban pikiran, pengambilan keputusan, maupun dalam menyikapi risiko bersama.

Salah satu kekuatan utama film ini adalah keberaniannya dalam menyoroti praktik pinjaman online ilegal yang sering kali memanfaatkan ketidaktahuan dan keterdesakan masyarakat. Melalui alur yang menegangkan namun tetap menyentuh hati, penonton diajak melihat bagaimana dampak dari pinjaman semacam itu tidak hanya bersifat finansial, tetapi juga psikologis mulai dari tekanan mental, intimidasi, hingga perasaan malu yang sering kali membuat korban terisolasi.

Lebih dari sekadar drama keluarga, Home Sweet Loan juga menjadi bentuk kritik sosial terhadap minimnya literasi keuangan di tengah masyarakat kita. Film ini menekankan pentingnya edukasi finansial sejak dini bagaimana cara mengelola uang, memahami bunga dan risiko kredit, serta mengenali modus-modus penipuan pinjaman. Melalui pendekatan yang ringan namun tajam, film ini menyisipkan pesan bahwa memiliki rumah atau impian lainnya tidak seharusnya mengorbankan masa depan dan keharmonisan keluarga.

Secara keseluruhan, Home Sweet Loan adalah pengingat penting bahwa dalam menghadapi tekanan ekonomi, yang dibutuhkan bukan hanya kerja keras, tetapi juga kesadaran finansial, komunikasi yang sehat, dan keberanian untuk mengatakan “tidak” pada hal-hal yang berisiko. Film ini bukan hanya layak ditonton, tetapi juga didiskusikan, terutama oleh keluarga-keluarga muda yang sedang membangun kehidupan bersama.

Film ini berhasil menghadirkan cerita yang relevan dengan realitas masyarakat, terutama generasi muda yang bergulat dengan tekanan finansial dan ekspektasi hidup. Perpaduan antara elemen humor dan kehangatan hubungan antar karakter membuat film ini terasa ringan namun tetap bermakna. Tak hanya menghibur, film ini juga mengajak penontonnya untuk merenung, memahami beban hidup orang lain, dan menemukan harapan di tengah keterbatasan.

Home Sweet Loan membuktikan bahwa cerita sederhana pun bisa meninggalkan kesan mendalam jika disampaikan dengan tulus dan jujur. Dari respon positif yang datang dari penonton, dapat kita simpulkan bahwa Home Sweet Loan adalah film yang sangat dapat dinikmati, bukan hanya karena dramanya yang menyentuh, tetapi juga karena keberhasilannya menghadirkan konteks sosial yang relevan, dibalut dengan komedi persahabatan yang hangat serta bumbu-bumbu romantis yang ringan namun berkesan. Film ini tidak hanya menghibur, tapi juga mengajak penonton untuk merenungi realita generasi sandwich dengan cara yang ringan namun mengena.

Review oleh: Sachri Fadillah, Faldy Royan Hidayat, M. Ridwan Reviansyah, dan Bintang Abhirama dari LSPR Institute of Communication & Business

Leave a comment