Review House of Gucci, Kisah Pembunuhan Pewaris Kerajaan Fashion yang Hambar

Mudah untuk meyakini House of Gucci sebagai tontonan yang apik. Selain karena melibatkan jajaran pemain dan kru papan atas, guliran kisah film ini disadur dari peristiwa nyata yang di dalamnya penuh dengan intrik; seputar kasus pembunuhan pewaris kerajaan fashion asal Italia. Tapi sayangnya, kenyataan tak selalu sejalan dengan ekspektasi. Meskipun akting para pelakonnya terhitung apik – khususnya Lady Gaga, Jared Leto, dan Al Pacino – tapi nada pengisahan yang tidak konsisten dan plot yang banyak maunya seketika membunuh potensi besarnya untuk menjadi sajian crime thriller yang menggigit. Menginjak pertengahan durasi, film ini kebingungan dalam menentukan arah tujuan yang berimbas pada hambarnya klimaks yang semestinya bisa membuat jantung berdegup kencang.

Di atas kertas, House of Gucci yang dinahkodai oleh Ridley Scott (Alien, Gladiator) terlihat begitu menggiurkan. Betapa tidak, film yang materi penceritaannya disadur dari buku bertajuk The House of Gucci: A Sensational Story of Murder, Madness, Glamour, and Greed rekaan Sara Gay Forden ini mengulik tentang kasus pembunuhan pewaris kerajaan fashion asal Italia, Maurizio Gucci. Ditengok dari sumbernya, kita tentu bisa mengantisipasi adanya intrik berlapis-lapis yang dipicu oleh ambisi, keserakahan, dan kegilaan manusia yang berujung pada tragedi serta melibatkan banyak karakter penting. Belum lagi, brand Gucci yang tersohor itu sendiri belum apa-apa sudah menjanjikan kesan mewah nan mahal pada tampilan visual filmnya yang bisa juga ditengok dari jajaran pemainnya.

Tak tanggung-tanggung, House of Gucci berhasil mengajak serta pelakon-pelakon yang mengombinasikan komoditi panas di Hollywood seperti Lady Gaga, Adam Driver, dan Jared Leto, dengan para pemain senior yang disegani seperti Jeremy Irons, Salma Hayek, dan Al Pacino. Menengok nama-nama yang terlibat sekaligus materi kisah yang ditawarkan tersebut, siapa coba yang tidak tergoda untuk menjajalnya? Ada potensi besar di sana yang sayang beribu sayang ternyata tidak pernah mewujud dalam hasil akhirnya.

Narasi House of Gucci bermula pada pertemuan Maurizio Gucci (Adam Driver) dengan Patrizia Reggiani (Lady Gaga) di sebuah pesta. Patrizia yang bekerja di perusahaan truk milik sang ayah seketika kepincut pada Maurizio dan berjuang mati-matian untuk menaklukkan pria idamannya ini. Dari awalnya hanya sebatas mengagumi kecantikan Patrizia, Maurizio pun secara perlahan mulai jatuh hati pada perempuan tersebut karena kegigihannya. Tapi hubungan asmara dua sejoli ini malangnya justru ditentang keras oleh ayah Maurizio, Rodolfo (Jeremy Irons), yang mengepalai perusahaan fashion Gucci. Ada kecurigaan kalau si calon menantu tidak benar-benar mencintai putranya dan hanya ingin mengejar harta keluarga.

Penolakan dari Rodolfo berujung pada hengkangnya Maurizio dari rumah lantaran dia lebih memilih untuk menikahi sang kekasih ketimbang mewarisi Gucci. Selama bertahun-tahun, Maurizio dan Patrizia hidup dalam kesederhanaan sampai kemudian sang istri berbadan dua. Patrizia melihat kehamilan ini sebagai kesempatan untuk membangun lagi tali silaturahmi dengan keluarga Gucci. Berbekal bantuan sang paman, Aldo (Al Pacino), Maurizio berhasil kembali rukun dengan Rodolfo tepat sebelum meninggal. Rodolfo menghadiahinya 50% saham di Gucci yang alih-alih mendatangkan kebahagiaan, malah menjadi awal mula datangnya rentetan musibah bagi keluarga Gucci.

Mesti diakui, House of Gucci ini punya materi cerita yang sinetron banget. Konfliknya tidak jauh-jauh dari terhalang restu orang tua, rebutan warisan, keblinger harta, pengkhianatan, sampai perselingkuhan. Tapi jangan salah, ini bukan berarti jelek. Jika Opa Ridley Scott memilih untuk bersenang-senang dengannya sambil berkata, “masa bodoh, mari kita buat senorak mungkin!” bisa jadi film ini akan terasa menggigit bak menonton opera sabun, telenovela, drama makjang, atau sinetron yang digarap dengan kualitas mumpuni. Apalagi film ini sudah punya desain produksi mewah yang memungkinkan tampilan visualnya merepresentasikan suatu masa sekaligus terlihat mahal, sesuai dengan fokus ceritanya yang mengetengahkan pada hiruk pikuk dibalik kerajaan fashion dari Italia.

Jajaran pemain ansambelnya pun sebagian besar memahami betul bagaimana seharusnya mereka berlakon di film ini terutama Lady Gaga, Jared Leto (berperan sebagai putra Aldo yang luar biasa nyentrik), dan Al Pacino. Ketiga pelakon ini memang menampilkan performa yang seringkali terlihat konyol, lebay, dan menggelikan, tapi justru itulah yang membuat mereka menyatu dengan film. Adam Driver yang bermain kelewat serius malah seperti berasal dari film yang berbeda walau permainannya masih terhitung kompeten. Jika demikian, lantas apa yang salah dari House of Gucci? Ketidaktegasan sang sutradara dalam menentukan nada pengisahan merupakan problematika utama film ini.

Sejatinya, Ridley Scott sadar betul kalau segala intrik dan karakter dalam House of Gucci amatlah konyol. Bahkan film ini punya karakter dukun yang mengirimkan guna-guna. Kurang menggelikan apalagi, coba? Akan tetapi, alih-alih mengemas film ini sepenuhnya dengan pendekatan campy (lebay dan norak), sang sutradara ada kalanya masih mencoba untuk tampil elegan dengan membingkai cerita ala crime thriller serius yang justru menciptakan krisis identitas. Menapaki separuh durasi, film mulai tampak kebingungan hendak dibawa ke arah mana. Mau dianggap serius kok ya terlalu konyol, cuma kalau pengennya dianggap konyol kok ya terlalu serius.

Saking bingungnya menentukan gaya penceritaan yang hendak dianut, narasi House of Gucci pun turut kena imbasnya. Ada banyak hal yang ingin dijejalkan ke dalam cerita sampai-sampai terasa kurang fokus. Disamping sejumlah poin krusial yang semestinya dikedepankan tak pernah digali mendalam, salah duanya terkait perkembangan sosok Patrizia Reggiani yang membuat saya bertanya-tanya, “apakah dia memang pribadi yang licik sedari awal? Atau ada yang memicunya di pertengahan jalan?” dan bagaimana hubungan antara Maurizio dengan Patrizia secara cepat berubah dari penuh kobaran api asmara menjadi dingin, film pun seringkali mengalami perpindahan adegan yang tak mulus.

Saking tak mulusnya sampai memantik reaksi, “lho kok tiba-tiba begini?.” Alhasil House of Gucci yang tadinya memancing rasa ingin tahu perihal drama di balik kerajaan Gucci pun secara perlahan tapi pasti kehilangan daya tarik maupun intensitasnya. Seiring berjalannya durasi, saya tak lagi antusias menantikan keriuhan apa-apa saja yang akan menanti. Bahkan saat saya mengira film ini akan mengompensasinya melalui detik-detik jelang pembunuhan dan momen persidangan, ternyata semuanya berlangsung begitu cepat tanpa meninggalkan kesan apapun kecuali hambar.

Ulasan ini ditulis oleh Taufiqur Rizal pemilik akun @TarizSolis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s