Review Free Guy, Saat Grand Theft Auto Jadi Rom-Com

Kisah fiktofilia bukanlah hal yang baru dalam dunia film. Karakter nyata dan karakter fiksi berkali-kali bersinggungan dan saling jatuh cinta; namun, FREE GUY yang disutradai Shawn Levy dari skenario Matt Lieberman dan Zak Penn dengan cerdik memberikan twist dan pendekatan subversif terhadapnya, sambil diperkuat oleh penampilan menghibur Ryan Reynolds yang bukan hanya kocak tapi juga manis. Kisah romansa karakter NPC dalam game online ini dihidupkannya dengan begitu mudahnya begitu juga tema petualangan online-nya yang seru. Dengan sama mudahnya, ia juga menyelamatkan film ini yang lagging parah alias tersendat-sendat narasinya di tengah-tengah. Bersama Jodie Comer, Taika Waititi, serta Joe Kerry, Reynolds menghadirkan sebuah sajian blockbuster tentang ketamakan kapitalisme, skena online gaming, serta persoalan eksistensialisme yang mendasar tanpa harus muluk-muluk.

Bukan siapa-siapa, hanya teller dan satpam bank dalam game Free City.

Yang disajikan Free Guy bukanlah hal yang baru, tapi tak juga bisa dibilang hal yang usang. Formulanya Sudah dipakai berkali-kali melalui berbagai media, tapi belum media yang satu ini—video game, dan bukan semnbarang permainan, melainkan permainan online free-roam, open world. Mungkin kisah lain yang paling mendekati adalah Ready Player One, film blockbuster  tahun 2018 arahan Steven Spielberg yang merupakan adaptasi novel berjudul sama dari Ernest Cline (yang skenarionya juga ditulis Zak Penn). Itu pun persamaannya cuma sebatas lanskap ceritanya dalam game online.

Fiktofilia adalah fenomena yang cukup menggambarkan plot Free Guy. Hanya saja, kali ini situasinya terbalik. Jika biasanya karakter manusia yang jatuh cinta pada karakter fiksi (ada juga varian-nya di mana penciptanya jatuh cinta kepada karakter buatannya), cerita karangan Matt Lieberman (The Christmas Chronicle, sama imajinatifnya) ini memberikan pendekatan yang subversif. Role-nya dibalik.

Tokoh utamanya adalah keunikan tersendiri film ini. Bukan sesosok jagoan, bukan juga sesosok underdog, Guy (Ryan Reynolds) hanyalah sebatas tokoh biasa—that guy secara harafiah. Tokoh di latar belakang, peran figuran, karakter NPC (non-playable character), begitulah kira-kira fungsinya dalam dunia game berjudul Free City. Bayangkan saja seorang pejalan kaki yang biasa ditabrak mobil karakter utama Grand Theft Auto tanpa perasaan bersalah—dan cuma berakibat wanted level bertambah satu poin.

Setiap hari Guy bekerja di bank bersama karibnya, Buddy (Lil Rey Howery), yang karakternya juga cuma that buddy secara harafiah. Kegiatannya selalu monoton—mampir ke warung kopi, menyapa orang yang sama, kerja di bank yang setiap hari jadi obyek misi perampokan, bahkan dialognya selalu sama. Namun, keadaan berubah ketika ia bertemu pemain online, Molotov Girl (Jodie Comer) dengan senandung Mariah Carey-nya. Pelan tapi pasti, sang NPC mulai menunjukkan penyimpangan dari ‘kodrat’ sebagai figuran, hingga bertransformasi menjadi sesosok OP yang dijuluki ‘Blue Shirt Guy’.

Pertemuan dengan Molotov Girl bukan cuma mengubah Guy, tapi juga seluruh dinamika Free City. Hal ini menarik perhatian pencipta game ini, Antwan (Taika Waititi) yang dengan segera menugaskan dua anak buahnya (Joe Keery dari Stranger Things dan Utkarsh Ambudkar, mantan VJ MTV yang belakangan tampil di Never Have I Ever) untuk menumpas Guy. Sementara itu, sang gadis pujaan ternyata memiliki agenda lain di dunia nyata. Kisah mereka bertemu di tengah badai antara peluncuran Free City 2 dan permasalah hukum antara Antwan dan siapapun di Balik Molotov Girl.

Jodie Comer berpasangan dengan Ryan Reynolds di dunia Free City.

Selepas itu, plot Free Guy berjalan auto-pilot. Bergerak kilat dari satu titik ke titik lain tanpa banyak basa-basi, dari satu set piece ke lainnya juga dengan berbagai Easter Eggs dan kameo. Elemen rom-com-nya berjalan bersama elemen petualangannya yang formulaic dengan kredo ‘keep it simple, stupid’.

Seperti halnya game online, film ini juga cukup sering bermasalah dengan lagging. Plotnya agak tersendat di babak tengahnya dan cukup terasa penyutradaraan Shawn Levy kelimpungan mengatasi lag ini. Beruntungnya, semua perlu berterima kasih kepada Reynolds atau siapapun dalang di balik transformasinya menjadi sesosok goofy yang sering kita lihat saat ini. Pesona goofy Reynolds terbukti menempel lekat dengannya, dan tanpa perlu polesan apapun, mudah baginya untuk membuat orang menyukai Guy di film ini.

Reynolds juga yang akhirnya menuntun perjalanan film ini dari sajian crowd-pleasing, blockbuster-y menjadi perenungan sederhana tentang eksistensialime. Tak perlu pakai bahasa yang rumit-rumit, cukup pertanyaan-pertanyaan menggelitik yang menyinggung tentang menghidupi hidup sepenuhnya. Free Guy akhirnya mampu membuktikan diri bahwa kisahnya bukan sekedar huru-hara saja.

Sedikit sentuhan magis sesaat sebelum filmnya berakhir berhasil memberikan penutup yang manis bagi Free Guy. Meskipun sedikit terlalu banyak eksposisi, tapi pengungkapannya yang tepat waktu ditambah dengan penempatan clue-nya yang familiar membuat final twist (yang tak terlalu mengejutkan, tapi layak mendapat apresiasi) ini terasa makin hangat. Percayalah, kehangatan yang dihadirkannya saja cukup untuk mengingatkan kita kenapa film blockbuster dibuat (selain karena uang, tentunya).

Review ini ditulis oleh Paskalis Damar yang sering menulis di sinekdoks.com dan @sinekdoks di Twitter.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s