Review Passing (2021), Hitam dan Putih dalam Debut Penyutradaraan Rebecca Hall

Debut penyutradaraan Rebecca Hall (Vicky Cristina Barcelona, Christine) adalah adaptasi lepas dari novel Nella Larsen berjudul Passing. Judulnya sendiri merupakan sebuah istilah sosio-kultural yang merujuk pada ‘racial passing’ — saat seseorang dari kelompok rasial tertentu diterima atau layak mendapat free pass untuk dianggap sebagai bagian kelompok rasial lain, terutama dikarenakan kemiripan fisik. Kisah ini sendiri menghadirkan diskursus tentang ras dan gender yang digambarkan melalui praktik racial passing yang dilakukan seorang perempuan kulit hitam yang complexion-nya cukup cerah untuk bisa dianggap kulit putih.

Tessa Thompson sebagai Irene ‘Reenie’ Redfield dalam Passing (2021)

Tessa Thompson (Creed, Thor: Ragnarok) dan Ruth Negga (Loving, AMC’s Preacher) hadir di tengah-tengah kisah penuh intrik dengan penampilan penuh gravita, yang seolah menarik semua perhatian ke tengah-tengah hubungan kedua karakternya. Thompson adalah Irene Redfield dan Negga adalah Clare Kendry, dua orang sahabat yang tumbuh bersama dalam komunitas ras campur sejak kecil. Mereka dipertemukan kembali — di sebuah kompleks mewah yang hampir ekslusif untuk orang kulit putih di era 1920-an — saat mereka tengah menjalani praktik passing sebagai perempuan kulit putih.

Bagi Irene (atau sering dipanggil Reenie), ini semua hanya demi kesenangan sejenak — menikmati privilege kulit putih yang takkan ia dapatkan tanpa kulitnya yang cerah. Namun, kejadian ini punya arti lain bagi Clare. Seluruh hidupnya adalah praktik passing itu sendiri semenjak ia memutuskan untuk menikahi seorang pria kulit putih konservatif yang cenderung rasis, John (Alexander Skarsgård). Reuni ini nantinya akan memperkenalkan Clare pada skena kulit hitam di Harlem yang ikut diprakarsai pasangan Reenie, Dr. Brian Redfield (Andre Holland). Saling observasi hidup masing-masing dalam Passing ini nantinya yang akan menghadirkan intrik yang membuat kisah ini bukan sekedar Hitam dan Putih.

Hall menghadirkan pendekatan yang agak lembut untuk kisah yang sangat powerful ini. Ia bermain dengan sinematografi monokrom yang bukan sekedar gimmick. Bekerja sama dengan sinematografer Eduard Grau (The Gift, Boy Erased), sang sutradara banyak memakai efek bayangan dan saturasi berlebihan untuk menggambarkan praktik passing dan efeknya. Saat karakternya tengah dalam act, saturasi yang berlebihan menyamarkan warna kulit mereka sehingga memberikan kesan ‘penerimaan.’ Saat Mereka tengah menjadi diri sendiri, kontras meninggi dan kita mulai bisa melihat ‘diri mereka yang sebenarnya.’

Narasinya sendiri tak pernah meledak-ledak dan terasa sedikit terlalu terukur, seolah tak ingin jatuh ke jurang melodrama atau kritik sosial yang terlalu vokal. Kita bisa merasakan ketegangan saat kita tahu stake yang dihadapi Reenie atau Clare saat mereka tengah menjalani passing. Kengerian itu tergambar dalam atmosfernya yang lebih kental dari sekedar sinematografi; namun, Passing punya caranya sendiri dalam menuturkannya.

Kengeriannya terasa lebih dalam ketika kita diperkenalkan kepada John yang amat rasis dan insensitif; atau, saat Clare memutuskan untuk diam-diam terlibat dalam kegiatan di Harlem. Semua itu dibuat Hall seolah-olah kengeriannya hanya dalam pikiran saja. Karakter-karakternya tak bereaksi berlebihan akan resiko yang mereka hadapi; namun, kita bisa melihat kekhawatiran yang sama terpancar dari air muka mereka. Seperti itulah kira-kira pendekatan yang dihadirkan Passing — terasa subdued namun bukan berarti menegasikan resiko yang ada.

Ruth Negga sebagai Clare Kendry yang tengah menjalani racial passing dalam Passing (2021)

Paruh awal Passing kaya akan eksposisi tentang potensi diskursus rasial, kelas sosial, dan peran gender yang thought-provoking; namun, semakin masuk ke dalam ceritanya, poin-poin diskursus tersebut mulai terasa tersirat dari mata tokoh-tokohnya. Semakin dalam, sudut pandang film ini mulai mengerucut melalui perspektif Reenie yang mulai campur aduk. Perasaan tidak aman yang menyelimutinya menjadi sajian utamanya. Mulai dari kepeduliannya terhadap Clare dan ketakutannya karena keterlibatannya dalam skena Harlem sampai ke kecemburuannya — entah kepada Clare atau Dr. Brian. Semuanya terkulminasi dalam klimaks ambigunya yang menawarkan banyak tafsir sekaligus.

Sekalipun Passing terasa membatasi diri dari topiknya yang bisa dieksplorasi lebih luas dan justru berfokus pada konflik personal, film ini tak kehilangan identitasnya sepenunya. Topiknya tentang racial passing terus mendominasi dan menghadirkan pertanyaan-pertanyaan kritis along the way. Pertanyaannya sering berkutat dalam has it ever been worth it? Jawabannya tak selalu ada yang konkret, namun penampilan dan senyawa kuat. dari Thompson dan Negga mendefinisikan film ini dengan nyata. Penampilan keduanya mampu menghadirkan kedalaman yang mengakomodasi kurangnya emotional drive dalam penyutradaraan Hall.

Review ini ditulis oleh Paskalis Damar yang sering menulis di sinekdoks.com dan @sinekdoks di Twitter.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s