Review Malignant, James Wan is Back with the Power of Giallo and Body Horror

Coming home bukan cuman berlaku buat timnas sepakbola Inggris saja tapi juga buat James Wan yang juga akhirnya pulang ke rumah horornya lagi. Dengan konsep yang mungkin belum pernah kamu lihat sebelumnya, Malignant mengerikan dengan konsep gabungan sub-genre horor yang menciptakan keunikan, twist gila & juga eksekusi stylish brutal tersendiri. Meski ditutup terburu-buru dengan sedikit kebodohan di sana-sini dan tone yang tak terlalu serius, buat saya ini tetap pertunjukan horor yang bagus dari seorang James Wan.

Sedikit jumlah sutradara yang bisa menandingi kedigdayaan seorang James Wan di alam horor. Ketika banyak koleganya harus jungkir balik mempertahankan kejayaan satu franchise saja, Wan sejauh ini malah sudah tiga kali melakukannya dalam waralaba Saw, Insidious sampai The Conjuring, bahkan judul terakhir itu sampai melahirkan universe-nya sendiri yang bercabang-cabang dan tentu saja ber-dollar-dollar. Dan tidak hanya di horor, Wan pun sama suksesnya ketika ia diberi kepercayaan untuk menukangi Furious 7 (2015) dan Aquaman (2018) yang notabene bukan spesies horor. Jadi ketika kemudian ia memutuskan untuk kembali duduk di kursi sutradara di Malignant setelah lima tahun belakangan hanya mondar-mandir sebagai penulis cerita dan terkadang nyantai sebagai produser eksekutif, tentu saja ini menjadi sebuah come back yang disambut hangat para fans horornya yang sudah terlalu rindu ditakut-takuti olehnya.

Di Malignant Wan tidak hanya kembali, ia kembali dengan kekuatan penuh, membawa passion dan cintanya akan horor yang membesarkannya. Tidak tanggung-tanggung, Wan menumpahkan ide gilanya dengan banyak kesenangan, kejutan dan kekacauan (dalam hal positif) yang banyak terinspirasi dari berbagai sub-genre horor sebut saja, haunted house, exorcism, medical, home invasion, sampai body horror dan bahkan giallo, belum lagi saya menyebut homage-homage horor klasik yang disuntikan Wan ke dalam Malignant.

Narasi Malignant memulai segalanya dengan kembali ke tahun 1993, ketika sebuah kekacauan di sebuah rumah sakit jiwa yang diakibatkan eksperimen seorang dokter kepada pasien misterius bernama Gabriel yang berujung kepada kematian mengerikan beberapa pegawainya. Garis waktunya kemudian melompat ke 27 tahun kemudian, di Seattle untuk membawa kita bertemu dengan Madison Lake (Annabelle Wallis) yang tengah hamil. Dan setelah mengalami KDRT oleh suaminya, Madison pun mulai mengalami serangkaian kejadian aneh ketika secara gaib ia mulai melihat penampakan momen pembunuhan mengerikan secara langsung di tempat berbeda yang dilakukan oleh sosok bertudung hitam misterius.

Yang menarik dari Malignant ini adalah kejutan demi kejutan, bukan hanya soal plot twist yang memang membagongkan namun juga bagaimana cepat sub-genrenya berganti satu sama lain. Memulainya sebagai eksperimental horor di set rumah sakit lama era 90-an dengan kekacauan medis yang mengingatkan pada Re-Animator-nya Stuart Gordon, James Wan kemudian mentransformasinya menjadi horor rumah hantu, lalu bergeser lagi menjadi home invasion menegangkan sebelum elemen slasher supernatural datang menggantikannya. Tapi tidak sampai di situ saja, dalam balutan teknis jempolan ada visual mengagumkan dari pergerakan kamera ala Brian De Palma yang cantik dan juga memusingkan, pencahayaan mencolok yang sepertinya banyak mendapat pengaruh Giallo dari master horor Italia Dario Argento dan Mario Bava hingga pada akhirnya semua dipadukan Wan dengan gayanya sendiri yang kali ini harus diakui meski jago dalam bercerita dan membangun misterinya serta tentu saja, menciptakan aroma horor mencekam dengan kejutan besar di 30 menit terakhir yang berdarah-darah, tapi tone-nya terkadang terasa aneh, tak terlalu serius atau kamu bisa menyebutnya konyol bahkan di narasi yang ditulis Akela Cooper termasuk pemilihan beberapa dialognya.

Tak banyak karakter menonjol yang benar-benar bisa kita pedulikan nasibnya di sini bahkan untuk Annabelle Wallis, tapi Wallis masih cukup mengesankan dalam perannya sebagai satu-satunya karakter tunggal yang berubah dari penakut menjadi menakutkan. Ada dukungan dari Maddie Hasson sebagai Sydney ditambah George Young dan Michole Briana White, dua polisi yang semakin bingung (baca: bodoh) di saat mencoba menyelesaikan kasus, beruntung kecepatan dan semangat Wan dalam mengeksekusi tiap adegannya dengan cermat menghentikan kita dari mempertanyakan terlalu banyak hal-hal ganjil. Jika ada satu hal yang benar-benar berasa kurangnya di banding karya horor Wan lain itu adalah Malignant tak terlalu menakutkan seperti Insidious atau The Conjuring. Ya, kecuali kalau kamu memang benar-benar penakut hanya dengan suara deritan pintu, tak ada momen di Malignant yang sampai membuatmu bergidik.

Ya, Malignant bukanlah film untuk penggemar horor yang terlalu serius, bukan untuk mereka yang mendambakan sensasi ketakutan maksimal. Ini lebih terasa seperti sebuah perayaan besar dari seorang James Wan sebagai penghormatannya kepada horor sekaligus momen merenggangkan diri setelah sekian lama tidak banyak melakukan gerakan horor dari bangku sutradara. Jelas bukan karya terbaik Wan, terkadang Malignant terlihat berantakan, absurd dan juga sering kali bodoh, meski harus diakui ia juga jago menyajikan dan menyimpan misterinya dalam kedok berbagai sub-genre horor yang dikemas stylish yang kemudian diledakannya dengan kejutan gila dan kekacauan berdarah yang menyenangkan di puncak.

Ditulis oleh Hary Susanto pemilik akun Twitter @Hafilova

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s