Review Jungle Cruise, Wahana Petualangan dengan Komedi Bapak-Bapak!

Dinakhodai oleh sutradara Jaume Collet-Serra, film Jungle Cruise beroperasi sebagai film petualangan yang seru dan menghibur. Persis kayak wahana hiburan Disneyland, yang jadi inspirasi dari konsep film ini. Dengan setting sungai dan hutan Amazon yang penuh misteri, kita akan dibuat hanyut mengikuti perjalanan Dwayne “The Rock” Johnson, yang jadi pemandu sekaligus ahli kapal, dan Emily Blunt, yang jadi ilmuwan. Pencarian tanaman obat penyembuh-segala itu tidak bisa jadi lebih asyik dan menegangkan lagi, karena kedua karakter sentral cerita ini akan mendapat banyak tantangan. Mulai dari Pangeran Nazi sadis, makhluk-makhluk legenda yang tak bisa mati (salah satunya bertubuh penuh ular!), dan bahkan pandangan yang menganggap remeh perempuan. Tapi bukan itu saja hal yang harus dikalahkan oleh Emily Blunt dan The Rock. Mereka juga harus berjuang memainkan naskah yang punya muatan lelucon yang kadang terlalu “krik-krik”, dan twist yang sebenarnya tak perlu. Beruntung, senjata terkuat kedua aktor tersebut adalah permainan akting serta timing comedy yang sangat akurat dan natural.

Sebelum era superhero, genre petualanganlah yang jadi jagoan di bioskop. Mulai dari petualangan mencari harta karun seperti film-film Indiana Jones, maupun petualangan fantasi seperti The Mummy dan Pirates of Caribbean. Petualangan digemari karena tentu saja menjanjikan pengalaman menonton yang seru. Lewat perjalanan penuh bahaya, teka-teki unik, dan makhluk-makhluk legenda itulah imajinasi penonton terpuaskan. Apakah Jungle Cruise memang berniat untuk mengembalikan era keemasan genre petualangan. Enggak tau juga. Tapi yang jelas, Jungle Cruise benar-benar tampak seperti gabungan dari film-film petualangan tersebut!

Dari segi beat petualangan, film ini mirip Pirates of Caribbean, apalagi sama-sama punya musuh berupa makhluk seperti hantu atau zombie yang enggak bisa mati. Namun, jika kita melihatnya dari segi bangunan karakter, maka film ini persis sekali sama The Mummy. Protagonis film ini sama-sama seorang cewek ilmuwan, yang meminta tolong kepada pria jagoan, yang diam-diam adalah karakter bercela karena suka nipu dan sebagainya. Si pria juga nanti akan jadi love interest. Lalu, sebagai ally mereka, ada sodara laki-laki si protagonis, yang fungsi utamanya adalah sebagai comedic relief. Dan tentu saja, musuhnya juga makhluk abadi. Tapi Jungle Cruise punya dua karakter musuh. Yang satunya lagi adalah Pangeran Jerman, yang sadis tapi juga kocak abis. Si Pangeran ini mengejar kapal kecil milik tim protagonis dengan kapal selam militer. Bayangkan kocaknya kejar-kejaran kapal di sungai yang berkelok-kelok! Persoalan dikejar Nazi ini pun ternyata membuat film ini mirip sama salah satu film jadul, The African Queen (1951), yang kebetulan juga mengambil latar di kapal dan sungai.

Dengan segala kemiripan tersebut, untungnya Jungle Cruise masih menyimpan kekhususan tersendiri. Sutradara memberikan karakteristik berbeda kepada penokohan. Karakteristik yang membuat film ini relevan dengan keadaan jaman sekarang.

“Cewek kok Pakai Celana?!”

Meskipun set ceritanya ada pada tahun 1916, tapi film ini tidak bicara hal-hal yang ketinggalan zaman. Protagonis cerita, Lily yang diperankan oleh Emily Blunt, adalah cewek yang mandiri. Tangguh. Punya keahlian dan pemikiran paling maju. Saat para pria di sekelilingnya pada heran dan menanyakan kenapa dia pakai celana (ini dijadikan candaan berulang oleh film), Lily dengan cueknya melakukan apa yang ingin ia lakukan. Yakni menyewa kapal untuk mencari pohon legenda. Menjadikan Pangeran Nazi yang komikal sebagai antagonis, adalah cara film memparodikan pandangan feminis yang masih kerap mendapat tantangan hingga sekarang.

Bukan hanya Lily, film juga memuat satu lagi karakter yang progresif pada masa ceritanya. Tokoh adik Lily, yang setia menemani setiap petualangan walaupun dia takut dan gak nyaman bertualang di hutan dan sungai yang berbahaya (dan jorok), digambarkan oleh film sebagai karakter yang secara terbuka mengatakan dirinya gay dan tidak berencana untuk menikah. Tak pelak, ini sebuah progres buat Disney. Walaupun memang langkahnya ini masih baby step. Adik Lily ini, si MacGregor masih dibuat sebagian besar sebagai lucu-lucuan. Masih seperti stereotip. Misalnya ketika diperlihatkan dia bawa koper banyak banget sebagai kontras dari kakaknya yang cuma bawa tas kecil. Penokohan MacGregor juga tidak diberikan banyak pengaruh atau bobot ke dalam cerita petualangan mereka.

Bahkan Lily pun masih punya banyak ruang untuk perbaikan. Karakterisasi Lily yang jadi nyawa dan pembeda film ini mendapat pengembangan yang kurang konsisten. Di akhir cerita, Lily malah jadi kayak karakter yang bucin. Yang mengesampingkan tujuannya demi dunia kesehatan, dan mementingkan cintanya. Film ini memang seperti kelabakan mengolah hal yang demikian banyak, sehingga mati-matian membuat banyak kelokan dan kejutan.

‘Adaptasi’ dari Wahana Taman Hiburan

Yang disebut Adaptasi dalam film sebenarnya adalah jika film tersebut berasal dari bentuk seni atau literatur yang lain, seperti novel, puisi, atau teater. Tapi Disney mah bebas. Mereka punya taman hiburan, dan punya duit untuk meng-hire orang-orang membuat film dari wahana di taman hiburan itu. Jungle Cruise bukan film pertama Disney yang diangkat dari taman hiburan. Sebelumnya ada The Haunted Mansion, Tower of Terror, Tomorrowland, dan tentu saja, Pirates of Caribbean.

Konsep film Jungle Cruise mengikuti konsep wahananya. Perjalanan menyusur sungai Amerika Selatan, Afrika, dan Asia di atas kapal jadul, lengkap dengan pemandu yang disebut dengan Skipper. Pemandu akan membawakan cerita, menceritakan keadaan di sekeliling mereka, sekaligus menyapa pengunjung dengan humor-humor. Pada beberapa tempat di sepanjang sungai telah disiapkan boneka-boneka animatronik mulai dari hewan-hewan eksotis hingga ke suku pedalaman. Dalam cerita film, kita melihat petualangan Lily di sepanjang sungai Amazon, dia bertemu dengan berbagai rintangan dan hewan-hewan, sementara terus mendengar ocehan Frank Wolff, yang memang karakternya dikonsepkan selayaknya Skipper.

Pada dasarnya, hanya konsep itulah yang dipunya oleh film ini sebagai modal. Sehingga mereka harus melengkapi dengan cerita dan lain sebagainya. Karena itulah Jungle Cruise punya begitu banyak elemen. Mereka merasa tidak cukup hanya dengan penokohan modern. Banyak hal yang dimasukkan. Mulai dari banyak referensi atau kemiripan dengan sejumlah film petualangan tadi. Hingga ke twist yang sebenarnya tidak benar-benar diperlukan oleh cerita. Film ini jadi seperti kapal yang memuat terlalu banyak.

The Rock dan Candaan Bapak-Bapak

Meng-cast Dwayne Johnson sebagai Skipper merupakan langkah yang menarik. Karena semua orang tau The Rock. Dia adalah bintang laga, dengan chemistry jagoan yang kuat. The Rock juga dikenal punya penyampaian komedi yang khas. Sebagai Frank Wolff, pemandu yang penokohannya berdasarkan Skipper wahana Jungle Cruise, dia harus membawakan komedi yang agak lain dari yang sudah-sudah.

Begini, wahana Jungle Cruise sudah ada sejak 1955. Lelucon yang para Skipper sampaikan tentu saja sudah diskrip. Skrip tersebut memang telah mendapat peremajaan seiring waktu, tapi pada dasarnya leluconnya tetap lelucon lama. Jadi The Rock di film ini harus membawakan komedi yang sama seperti itu. Yakni berupa lelucon plesetan yang garing, yang kita kenal dengan istilah ‘candaan bapak-bapak’. Beberapa candaan tersebut di antaranya adalah Frank membawa turis ke balik air terjun kecil, dan berkata “Bersiaplah untuk melihat keajaiban dunia ke delapan; bagian belakang air!”, yang tentu saja air itu sama saja bagian depan, belakang, atau sampingnya. Atau dengar pula ketika Frank memperlihatkan dua burung Toucan sedang beradu paruh, dia bilang “Itu adalah permainan yang only two can play” – memplesetkan two can menjadi nama Toucan. Garing sekali. Butuh kharisma segede The Rock supaya bisa memainkan dialog komedi bapak-bapak seperti itu dan tetap terdengar mempesona.

Kerjaan The Rock sebagai Frank memang bukan ngebanyol semata. Dia actually punya banyak lapisan dalam perannya. Mulai dari adegan-adegan aksi (bergulat dengan macan tutul!), menipu orang, jadi batu beneran, hingga ke adegan drama (nyaris) romansa. Kenapa aku bilang ‘nyaris’? Karena memang chemistry The Rock dan Emily Blunt canggung sekali sebagai pasangan. Karakter mereka gak tertulis alami sebagai pasangan. Melainkan karena film butuh untuk mengisi banyak, salah satunya dengan harus ada romansa. The Rock dan Emily sempurna bermain komedi, bermain sebagai pelengkap petualangan satu sama lain. Tapi tidak dalam nada romantis.

Bukan pada komedinya, tapi pada pengembangan ceritanya lah film yang berusaha memasukkan kesan modern ini jadi terasa outdated. Jungle Cruise pada awalnya adalah perjalanan menghibur, yang paham betul kekuatan dirinya yakni sebagai sajian yang lebay. Yang over-the-top. Tapi kemudian, pemahaman film-harus-ada-romance dan film-harus-ada-twist itu mulai masuk. Dari sekian banyak candaan garing sepanjang dua jam lebih durasi, twist pada film inilah yang paling tak lucu. Pengungkapan tak terduga yang disimpan film hingga menjelang akhir membuat cerita film ini jadi membesar, tapi juga jadi tak lagi masuk akal dengan yang mereka bangun sedari awal. Dan parahnya, merusak banyak karakter yang sudah di-set-up baik.

Secara hiburan, film Jungle Cruise memang asyik. Petualangannya dapet. Komedinya juga berhasil diolah sehingga jadi lucu oleh kedua pemain utama. Tapi itu hanya bertahan selama satu jam saja. Setelahnya, film menjadi semakin bego. Seiring semakin banyaknya pengungkapan yang gak logis dan gak perlu. Tapi secara keseluruhan, untuk sebuah film yang diangkat dari wahana taman hiburan, Jungle Cruise enggak mengecewakan. ‘Kapal’ itu memang kelebihan muatan yang tidak berguna, tapi tidak sampai membuatnya tenggelam.

Ditulis oleh Arya Pratama Putra dari mydirtsheet.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s