Review Nussa, Akhirnya Indonesia Punya Film Animasi Bagus!

Meski sekilas tampak seperti film reliji dengan pesan keagamaan yang kuat, Nussa sejatinya bercerita secara universal. Pesan yang dibawakannya seperti persahabatan yang tulus, pentingnya cinta kasih dalam keluarga, dan pengorbanan bisa menjangkau penonton dari seluruh lapisan usia, suku, maupun agama. Seluruh pesan ini dikemas dalam sajian anak-anak dengan narasi yang akan mengaduk-aduk emosimu serta animasi yang halus. Ditengah-tengah ledakan tawa atau air mata yang mengucur menjatuhi pipi, kamu juga akan mengagumi visualnya yang membuktikan bahwa animator di tanah air tidak bisa dipandang sebelah mata. Itulah mengapa tidak berlebihan jika kemudian ada yang menyebut Nussa sebagai salah satu film Indonesia terbaik tahun ini sekaligus film animasi terbaik yang pernah dibuat di negeri ini.

Sebagai serial animasi terpopuler di Indonesia saat ini, tidak mengherankan saat Nussa yang diproduksi oleh studio animasi The Little Giantz dan 4Stripe Productions kemudian dipinang oleh Visinema Pictures untuk diboyong ke format layar lebar. Sudah saatnya bagi serial ini untuk terbang lebih tinggi dan menjangkau pasar yang lebih luas lagi. Meski pelanggan kanal resminya di YouTube sudah menyentuh angka 8 juta, bukan tidak mungkin to bagi Nussa untuk menggaet penggemar anyar? Buktinya adalah saya sendiri. Hanya mengenal sekelumit tontonan wajib kanak-kanak modern ini sebelum melangkahkan kaki ke bioskop, saya sebagai penonton awam merasa tergugah untuk mendalami serialnya lebih jauh selepas nonton.

Bukan saja karena saya ingin mengenal lebih dalam sosok Nussa (diisi suara oleh Muzakki Ramdhan) dan adiknya yang menggemaskan, Rarra (Aysha Razanna Ocean Fajar), yang sebetulnya sudah cukup terjelaskan dengan baik di versi filmnya. Tapi juga karena saya terkesima dengan jalinan pengisahan yang dibawakannya. Sempat mengira narasi dan topik pembicaraannya akan sangat segmented sekaligus ceriwis – seperti umumnya film reliji Islam di Indonesia yang dialognya bak mendengar khotbah Jumat – ternyata Nussa amatlah universal yang membuatnya mudah diakses oleh penonton dari berbagai lapisan usia, suku, kelas sosial, bahkan agama.

Ya, tidak seperti dituduhkan oleh segelintir oknum yang menyebut Nussa sebagai produk propaganda untuk menyebarkan radikalisme dan sikap intoleran, film arahan Bony Wirasmono ini justru mengajak penontonnya berbicara mengenai persahabatan yang tulus, pentingnya cinta kasih dalam keluarga, sampai pengorbanan (dalam konteks membantu sesama). Itulah mengapa alih-alih geram, hati dilingkupi amarah yang membara, dan telinga panas akibat pesan moral yang dijejalkan secara paksa, menonton Nussa malah membuat hati terasa damai nan tentram. Segala pesan yang dibawakannya pun disampaikan secara halus dengan diterapkan ke dalam rangkaian adegan serta dialog yang relevan sehingga terdengar wajar.

Kamu tak akan menyaksikan salah satu karakter mendadak memerintah, “ayo sholat!,” hanya karena latar waktunya sudah memasuki waktu beribadah atau tiba-tiba menasehati dengan pesan-pesan kebajikan seolah-olah baru saja memperoleh wahyu. Bony beserta tim penulis skenario, Muhammad Nurman Wardi dan Widya Arifianti, betul-betul memperhatikan konteks. Mereka sebisa mungkin menghindari dialog tanpa konteks yang bersifat menggurui. Inilah yang kemudian membedakan Nussa dari sebagian besar film religi, film animasi, maupun film anak-anak Indonesia yang lebih mementingkan misi menyampaikan pesan moral ketimbang bercerita dengan baik.

Nussa mampu bercerita dengan baik. Di sini, kita disodori kisah Nussa yang ingin memenangkan science fair di sekolah untuk kesekian kalinya dengan roket rancangannya. Akan tetapi, perjuangannya kali ini tidak mudah karena dia mengalami kendala dalam eksperimen roket yang menjadikannya susah meluncur dan kehadiran si anak baru, Jonni (Ali Fikry), yang sanggup merakit roket lebih canggih. Seolah permasalahan di sekolah masih belum cukup pelik, Nussa juga harus hadapi kenyataan bahwa ayahnya, Abba (Alex Abbad), belum bisa pulang ke Indonesia karena terbentur pekerjaan yang menumpuk.

Ketimbang menghadirkan karakter sentral yang putih bersih, film ini menggambarkan Nussa secara manusiawi yang mana sosoknya sempat dikuasai oleh amarah, ambisi dan iri dengki. Dia marah kepada ayahnya, dia tak rela posisinya sebagai si juara sains direbut oleh Jonni, dan dia menghindari teman-teman sekaligus ibunya selama beberapa saat. Dampaknya, mudah bagi penonton untuk bisa terhubung dengan karakternya karena dia bukanlah sosok suci yang berjarak. Dia bisa berbuat salah, karakter-karakter lain pun bisa berbuat salah. Apalagi konflik yang dikedepankan oleh film juga kerap kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari seperti hasrat untuk unggul, harapan untuk membanggakan orang terkasih dan keinginan untuk dicintai. Konflik yang juga universal sekalipun karakternya amat Islami dan latarnya di bulan Ramadhan.

Berkat konflik ini, Nussa berkembang menjadi tontonan yang menggigit. Selama sisa durasi (total film mengalun sepanjang 107 menit), kita menyimak Nussa berproses. Bagaimana dia perlahan-lahan menerima keadaannya, menyadari kesalahannya, sampai akhirnya melakukan satu penebusan besar dalam klimaks yang membuat air mata bercucuran. Sangat indah, sangat hangat. Namun untuk bisa mencapai tahap akhir, Nussa tak lantas diberi jalan yang mudah diterka. Kamu masih akan mendapati beberapa kejutan-kejutan kecil dalam perjalanan Nussa untuk bertumbuh menjadi karakter yang lebih dewasa, bertanggung jawab, sekaligus bajik. Perjalanan ini tak melulu diisi dengan air mata (ya, selain klimaks setidaknya ada dua adegan lain yang saya rasa dipenuhi dengan bawang), tapi juga gelak tawa. Bahkan sejatinya, tawa, keceriaan, dan optimisme lah yang mendominasi film ini.

Penonton dikondisikan untuk senantiasa bergembira dengan menyaksikan persahabatan Nussa bersama teman-teman sekolahnya, relasi Nussa bersama orang-orang di sekitarnya, dan tentu saja, kehadiran Rarra yang sering berantem dengan kucing kesayangannya, Antta. Dua karakter paling gemes di Nussa yang kemunculannya selalu mencuri perhatian dalam film yang tampilan animasinya membuktikan bahwa animator Indonesia tidak boleh dipandang sebelah mata. Ya, selain terhanyut dengan narasinya, Nussa juga membuatku terpukau oleh visualnya lantaran animasinya begitu halus, cantik serta detil (tampak dari perakitan roket, gerak karakter, sampai plang nama jalan). Tiga problematika terbesar film animasi Indonesia; gerak bibir yang tak sinkron dengan suara, visual yang tak konsisten, dan cerita ala kadarnya, tak dijumpai di sini. Itulah mengapa jika ada yang menyebut Nussa sebagai lompatan besar bagi dunia animasi tanah air, pernyataan tersebut sama sekali tak berlebihan. Kenyataannya, memang demikianlah adanya.

Catatan: Psssttt… Jangan telat masuk dan jangan buru-buru pulang ya. Ada teaser menarik sebelum film dimulai dan ada adegan tambahan di ujung film.

Ditulis oleh Taufiqur Rizal pemilik akun Twitter @TarizSolis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s