Review Akhirat: A Love Story, Kisah Cinta Terlarang Hingga Menembus Alam Baka

Tentu tidak mudah menuangkan imajinasi alam akhirat ke dalam medium film yang notabene-nya bukan film animasi seperti ini, alamnya jelas tidak bisa ter-eksplorasi secara maksimal. Sebagai fantasi sudah barang tentu tidak sempurna, kesempurnaan hanya milik ciptaan Tuhan, sebagai romansa rasanya juga mustahil, setidaknya sebagai drama fiksi ini masih punya hati untuk membuat kita relate dengan nilai kemanusiaan dan energi positif yang coba dihantarkan.

Jason Iskandar yang sebelumnya telah banyak berkarya lewat film pendek seperti Elegi Melodi (2018), Balik Jakarta (2016), Langit Masih Gemuruh (2015), A Trip to Malilo (2018), dan Prankster dalam segmen film Omnibus yang berjudul Quarantine Tales (2020), kini untuk pertama kalinya melakukan debut penyutradaraan dalam film panjang berjudul Akhirat: A Love Story. Debut yang bisa dibilang cukup baik, meski kadang masih hit-and-miss. Akhirat: A Love Story sejatinya merupakan drama fantasy romance yang bergerak pada core romansa, namun bergulir dalam dua babak, separuh awal drama, separuh akhir fantasi.

Pengenalan dua karakter utamanya Timur dan Mentari tidak begitu cukup dalam, tapi tidak kering, karena kita masih akan bisa cukup merasakan betapa manis, mesra, toleransinya hubungan mereka berdua lewat obrolan-obrolan, gombalan-gombalan, curhatan-curhatan kecil yang kebanyakan muncul dari perbedaan mereka berdua, ya kita bicara perbedaan disini, perbedaan yang amat mendasar karena ini adalah kisah cinta beda agama. Hubungan mereka jelas belum menemukan titik terang, masih sembunyi-sembunyi, belum mendapat restu dari masing-masing orang tua, boro-boro restu, mengenalkan saja masih sungkan.

Sekilas seperti kisah Romeo & Juliet, namun sebetulnya tidak, karena Jason Iskandar membawa drama keluarga yang permasalahannya benar-benar dekat dengan kehidupan orang Indonesia terkait perbedaan keyakinan beragama. Drama keluarganya cukup balance, antara keluarga Timur dan Mentari silih berganti dalam mengenalkan latar belakang dan budayanya masing-masing, sampai juga pada pokok permasalahan mengenai pandangan masing-masing keluarga terhadap efek menjalin hubungan beda keyakinan, ada moral value yang kuat tertanam.

Memasuki ranah fantasi, filmnya mulai kurang menarik dan terasa kurang believable, lebih terasa seperti komedi parodi ketimbang fantasi berkualitas, disinilah konsep liar yang diusung oleh Jason Iskandar unjuk gigi. Berawal dari insiden klise, Akhirat: A Love Story akhirnya benar-benar memasuki alam “Akhirat”, atau lebih enaknya kita sebut Limbo, alam imajinatif, alam di mana yang keliatan tidak ada bedanya dengan alam Dunia, alam di mana kita bisa melihat malaikat pakai blangkon, alam di mana malaikat bisa kecolongan, alam di mana malaikat kejar-kejaran sama arwah, alam di mana arwah bisa naik mobil mewah, alam di mana arwah pacaran, alam di mana arwah menikah, alam di mana arwah punya komunitas tersendiri, dan lain sebagainya.

Alam itulah yang menjembatani pergolakan emosi Timur dan Mentari dengan alam dunia, secara tidak langsung juga dengan keluarganya, sehingga nanti berpengaruh terhadap resolusi karakternya di akhir, yang sayangnya agak memaksa karena konsep serta presentasi Akhirat/Limbo di sini dari awal memang cukup seadanya.

Terlepas dari kekurangan elemen fantasinya yang cukup menonjol, Akhirat: A Love Story bukan berarti tampil meaningless, dinamika antar karakter-karakternya cukup komprehensif yang mana hadir dari bermacam relasi. Lewat Mentari dengan Eyangnya kita bisa memetik hikmah untuk jangan pernah takut akan kematian, karena ajal pasti datang, lalu lewat beberapa anggota komunitas kita bisa melihat betapa setia dan penuh cinta kasihnya hubungan Ayah-Anak & Kakak-Beradik, kemudian lewat Mentari dengan Ibunya yang ada pengharapan tentang karir masa depan anaknya menulis buku, lanjut lewat Timur dengan Ibunya yang sudah legowo, juga lewat hubungan Mentari dengan Ibunya Timur yang sudah mulai semakin dekat dan menerima, bukan sebagai mertua melainkan sebagai orang yang sama-sama punya perasaan kedekatan yang berarti terhadap Timur, dan yang terakhir akhirnya Timur dan Mentari benar-benar bisa memaknai arti cinta mereka berdua.

Ditulis oleh Faraha Helmi a.k.a xipe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s